Gaya Hidup

Euforia Piala Dunia 2026 Boleh Redup, Tapi Perburuan Jersey Tim Favorit Masih Berlanjut

×

Euforia Piala Dunia 2026 Boleh Redup, Tapi Perburuan Jersey Tim Favorit Masih Berlanjut

Sebarkan artikel ini
jersey piala dunia
Jersey Piala Dunia 2026 di Pusat Jersey Semarang yang masih diburu fans sepak bola, Kamis, 2 Juli 2026 malam. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv

SEMARANG, beritajateng.tv – Demam Piala Dunia memang belum sepenuhnya padam di Kota Semarang. Namun, geliat penjualan jersey turnamen sepak bola terbesar di dunia itu tak lagi semeriah edisi sebelumnya. Di tengah euforia yang dinilai menurun, nama-nama besar seperti Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo masih menjadi magnet utama yang menggerakkan pasar jersey.

Fenomena tersebut terasa langsung oleh owner Pusat Jersey Semarang, Roby Susetyo Wibowo. Ia mengatakan penjualan jersey Piala Dunia tahun ini mengalami penurunan cukup signifikan dibandingkan Piala Dunia 2018 maupun 2022.

“Jujur turun dibandingkan edisi sebelumnya. Mungkin sekitar 50 persen karena euforianya memang berkurang,” kata Roby saat beritajateng.tv temui pada Kamis, 2 Juli 2026 malam.

Meski begitu, ratusan jersey tetap berhasil terjual sejak fase grup dimulai. Menurutnya, ia memang tidak menghitung secara pasti jumlah penjualan karena tingginya aktivitas toko selama berlangsungnya turnamen.

Berbeda dengan kompetisi antarklub yang biasanya memiliki satu tim paling dominan dalam penjualan, pasar jersey Piala Dunia cenderung lebih merata. Setiap negara memiliki basis penggemarnya masing-masing.

BACA JUGA: 32 Negara yang Pasti Lolos Babak Knockout Piala Dunia U17 2025, Ini Daftar Lengkapnya

Di Indonesia, negara besar Brasil, Argentina, Portugal, Belanda hingga Jerman tetap memiliki penggemar loyal. Faktor pemain bintang juga sangat menentukan keputusan pembelian.

“Messi dan Ronaldo itu pengaruhnya masih sangat kuat. Fans Barcelona biasanya ikut beli jersey Argentina karena Messi, begitu juga penggemar Ronaldo beli Portugal,” ujarnya.

Menariknya, Roby menyebut Jepang menjadi salah satu kejutan dalam penjualan tahun ini. Meski tim Samurai Biru sudah tersingkir, jersey away negara Sakura masih banyak pembeli incar.

Menurut Roby, berbeda dengan jersey Belanda atau Korea Selatan yang permintaannya langsung menurun setelah tersingkir, jersey away Jepang masih mampu bertahan di pasaran. Saat ini versi player issue Jepang dijual sekitar Rp250 ribuan.

“Kalau sekarang justru Jepang masih banyak yang tanya. Kelihatannya faktor desain. Orang lihat desainnya bagus jadi tetap beli walaupun timnya sudah gagal,” katanya.

Desain Jersey Jadi Daya Tarik Baru

Roby menjelaskan, Piala Dunia memiliki karakter pasar yang berbeda dengan kompetisi liga. Banyak pembeli yang sebenarnya bukan penggemar sepak bola, tetapi tertarik membeli jersey karena desainnya.

“Kalau klub kan fanatik. Mau desainnya bagus atau jelek tetap masyarakat beli. Kalau Piala Dunia lebih objektif. Orang yang enggak terlalu suka bola pun bisa beli karena lihat desainnya menarik,” jelasnya.

Selain menawarkan jersey dari berbagai negara peserta Piala Dunia, Pusat Jersey Semarang juga menyediakan dua jenis produk yang menyasar segmen pembeli berbeda, yakni versi suporter (supporter version) dan versi pemain (player issue).

Roby Susetyo Wibowo menjelaskan, kedua jenis jersey tersebut memiliki perbedaan pada material, detail, serta harga. Versi suporter menjadi pilihan yang paling banyak masyarakat beli karena lebih terjangkau, sedangkan versi pemain memiliki spesifikasi yang menyerupai jersey yang atlet kenakan di lapangan.

“Ada dua jenis, satu replika atau yang biasa disebut versi supporter, kemudian ada yang player issue, yaitu versi pemain. Kadang juga ada yang long sleeve, tapi tidak semua jersey tersedia lengan panjang,” jelas Roby.

Harga Jersey Bisa Naik hingga 10 Kali Lipat

Bisnis jersey Piala Dunia juga memiliki dinamika harga yang sangat bergantung pada perjalanan tim di turnamen. Semakin jauh sebuah negara melangkah, semakin tinggi harga jersey mereka.
Roby mengatakan kenaikan harga bukan semata keputusan pedagang, melainkan mengikuti mekanisme permintaan dan ketersediaan barang.

“Baru menang satu pertandingan saja harga sudah mulai naik. Lolos fase berikutnya naik lagi. Kalau sampai final bisa tiga sampai empat kali lipat, bahkan pengalaman sebelumnya pernah sampai 10 kali lipat dari harga awal,” ungkapnya.

Ia mencontohkan jersey yang semula dijual sekitar Rp150 ribu dapat melonjak menjadi Rp1 juta hingga Rp1,5 juta ketika tim tersebut berhasil menembus partai final. Sementara untuk jersey original, kenaikannya bahkan bisa mencapai belasan juta rupiah.

Anggapan Euforia Piala Dunia Berkurang

Menurut Roby, salah satu penyebab turunnya penjualan adalah berkurangnya atmosfer Piala Dunia tahun ini. Ia menilai jadwal pertandingan yang berlangsung pada dini hari hingga pagi membuat banyak orang enggan mengikuti pertandingan secara langsung.

“Kalau dibandingkan 2018 dan 2022 beda jauh. Faktor jam pertandingan, kemudian ada berbagai isu yang terjadi menjelang dan selama turnamen, menurut saya ikut memengaruhi euforia masyarakat,” katanya.

Meski penjualan menurun, Roby tetap optimistis bisnis jersey musiman masih menjanjikan. Ia menyebut keuntungan dari jersey tim yang melaju jauh biasanya untuk menutup kerugian stok negara-negara yang cepat tersingkir.

BACA JUGA: Peluang Timnas Indonesia Menuju Piala Dunia 2030, Shin Taeyong Sebut Masih Ada Harapan

Salah satu pembeli yang datang saat itu, Adhitya Delpiero Yogavic, yang mencari jersey player issue Inggris. Ia mengaku mendapatkan harga lebih mahal karena tim yang dia jagokan menang pertandingan pada malam harinya.

“Awalnya saya mau beli kemarin sebelum Inggris main. Tapi saya enggak bisa dan malam itu kan Inggris main, ternyata menang. Ya akhirnya naik [harganya] ini dapat Rp350.000,” ungkapnya. (*)

Editor: Farah Nazila

 

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp