Jateng

Fenomena Sekolah Negeri Sepi Murid, Pengamat Bongkar Akar Masalahnya

×

Fenomena Sekolah Negeri Sepi Murid, Pengamat Bongkar Akar Masalahnya

Sebarkan artikel ini
Festival Sekolah Berintegritas
Para peserta mengikuti salah satu mata lomba pada Festival Sekolah Berintegritas tingkat SMP/MTs se-Kabupaten Semarang di SMPN 2 Tuntang, Kabupaten Semarang, Senin, 8 Desember 2025. (ist)

Faktor ketiga adalah perubahan perilaku masyarakat dalam memilih sekolah. Orang tua kini tidak lagi menjadikan sekolah negeri sebagai pilihan utama. Banyak keluarga, khususnya dari kalangan menengah ke atas, lebih memilih sekolah swasta. Sebab ternilai menawarkan kualitas pendidikan, pembentukan karakter, hingga program unggulan yang lebih menarik.

BACA JUGA: Sekolah Swasta di Kota Semarang Bakal dapat Keringanan PBB Sampai 75 Persen

Pandangan serupa tersampaikan Pengamat Pendidikan Universitas Negeri Semarang (UNNES), Edi Subkhan. Ia menilai perpindahan minat ke sekolah swasta memang terjadi di sejumlah daerah, terutama pada masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi lebih baik.

“Sebagian besar dari mereka memilih sekolah swasta berbasis agama yang dipersepsikan memberi bekal karakter lebih dibanding sekolah negeri pada umumnya. Bagi kalangan menengah ke atas, sekolah dengan promosi dan branding internasional juga menjadi incaran, daripada sekolah negeri,” ujar Edi saat beritajateng.tv hubungi pada Junat, 17 Juli 2026.

Menurut Edi, sekolah negeri menghadapi tantangan dalam meningkatkan kualitas karena ruang inovasi yang terbatas. Selain regulasi yang ternilai lebih kaku, keterbatasan anggaran juga membuat pembenahan sarana dan prasarana berjalan lambat.

“Karena untuk memperbaiki harus melalui proses yang berliku-liku. Kalau anggaran mepet atau habis karena efisiensi untuk program MBG misalnya, ya akan makin merosot kualitas sekolah-sekolah negeri,” katanya.

BACA JUGA: Saat Musim SPMB Tiba, DPRD Semarang Ngaku Kebanjiran Titipan “Jalur Belakang”

Ia juga menilai guru di sekolah negeri cenderung lebih berhati-hati dalam berinovasi karena harus menyesuaikan dengan berbagai kebijakan yang telah pemerintah standarkan.

Meski demikian, Edi menegaskan kondisi ini bukan berarti kualitas sekolah negeri mengalami penurunan drastis. Menurutnya, sekolah swasta berkembang lebih cepat, sedangkan sekolah negeri cenderung berjalan di tempat karena keterbatasan sistem dan pendanaan.

Karena itu, ia meminta pemerintah memperkuat sekolah negeri melalui pendanaan yang lebih adil untuk peningkatan kualitas pembelajaran, sarana dan prasarana, perpustakaan, serta program beasiswa.