SEMARANG, beritajateng.tv – Fenomena sekolah negeri yang mulai kehilangan peminat pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 menjadi sorotan kalangan akademisi. Di sejumlah daerah di Jawa Tengah, bahkan terdapat sekolah dasar (SD) negeri di Kota Semarang yang hanya memperoleh kurang dari lima peserta didik baru.
Selain di Kota Semarang, Kondisi tersebut ditemukan di beberapa daerah, seperti Kabupaten Demak, Kabupaten Karanganyar, dan Kabupaten Boyolali. Menurut pengamat pendidikan, minimnya jumlah pendaftar tidak hanya dipengaruhi oleh faktor demografi, tetapi juga perubahan preferensi masyarakat terhadap sekolah swasta.
Pengamat pendidikan Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Ngasbun, mengungkapkan setidaknya ada tiga penyebab utama yang membuat sekolah negeri kini kalah pamor dibandingkan sekolah swasta.
BACA JUGA: Buka Suara Soal Praktik Titip-Menitip di SPMB 2026, Komisi E DPRD Jateng: Prinsipnya Tetap No Titip No Jastip
Faktor pertama adalah kualitas pendidikan yang dinilai belum mampu bersaing. Menurutnya, sekolah negeri tidak lagi bisa mengandalkan status sebagai sekolah milik pemerintah, tetapi harus menghadirkan keunggulan yang menjadi daya tarik masyarakat.
“Sekolah negeri harus transformasi untuk mengatasi kalah kualitas. Tak hanya andalkan status negeri, tetapi perlu bangun keunggulan dan tawarkan sesuatu,” ujar Ngasbun, Jumat, 17 Juli 2026.
Faktor kedua adalah penurunan angka kelahiran yang membuat jumlah calon peserta didik baru terus berkurang. Dampaknya, persaingan mendapatkan siswa semakin ketat, terutama di daerah yang jumlah penduduk usia sekolahnya menurun.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Ngasbun menyarankan pemerintah daerah melakukan pemetaan demografi secara berkala. Hasil pemetaan itu dapat menjadi dasar untuk menggabungkan sekolah atau memindahkan sekolah ke wilayah yang memiliki jumlah penduduk lebih padat.
“Sekolah yang memang secara tempat tidak lagi banyak penduduk, perlu pertimbangkan untuk geser ke daerah yang relatif padat penduduk,” katanya.





