Sementara itu, Ade (22) dan Indira (22), mahasiswa Fakultas Pertanian UNS, menilai IMF memang menarik. Namun kehadiran Banda Neira menjadi pemicu utama yang akhirnya membuat mereka benar-benar datang.
BACA JUGA: Festival Wayang Semesta Hadir di Simpang Lima, Nunung dan Cak Lontong Siap Hibur Warga Semarang
“Sebenernya tertarik sama festivalnya, tapi jujur yang bikin yakin datang tuh karena Banda Neira,” ungkap Ade.
“Kalau saya cuma tahu beberapa lagu Banda Neira, jadi lebij tertarik ke festivalnya. Tadi juga lihat penampilan reog,” tambah Indira.
Sebelum Banda Neira naik panggung, IMF 2025 menghadirkan serangkaian acara seremoni dan pertunjukan budaya. Delegasi Korea Selatan, Myanmar, serta daerah Riau (Siak) dan Jakarta menampilkan tarian yang memukau penonton.
Penonton juga terhibur oleh penampilan Reog Ponorogo dari komunitas Singo Yoso. Tarian reog yang ikonik dengan atraksi-atraksi menakjubkan berhasil menarik perhatian penonton, meski sebagian dari mereka tetap fokus mempertahankan posisi terbaik di depan panggung.
Lautan manusia pecah saat Banda Neira tampil
Sekitar pukul 22.00 WIB, suasana di Pendhapi Gede memuncak. Penampilan Banda Neira beroleh sambutan gemuruh teriakan dan sorakan penonton. Area festival penuh sesak, lampu ponsel menyala, dan ribuan suara ikut bernyanyi bersama.
Para penonton tidak hanya menikmati musik, tetapi juga berlomba-lomba mengabadikan momen comeback duo folk favorit mereka.
Namun berdasarkan pantauan beritajateng.tv, setelah Banda Neira selesai tampil, mayoritas penonton langsung meninggalkan lokasi. Arus massa keluar begitu cepat, meninggalkan area Pendhapi yang sebelumnya padat seperti lautan manusia.
Padahal, setelah penampilan Banda Neira masih ada beberapa delegasi dari Indonesia dan Malaysia yang menampilkan seni tarian topeng.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian besar pengunjung Gen Z datang karena magnet Banda Neira, bukan sepenuhnya karena agenda utama.





