IMF 2025 menjadi gambaran bagaimana perpaduan seni tradisi dan musik pop bisa menarik minat generasi muda. Meski banyak yang datang karena satu musisi, festival tetap menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan seni topeng kepada publik yang lebih luas.
BACA JUGA: Konser Kebangsaan Lintas Agama di Semarang Ajak Masyarakat Jaga Toleransi
Founder IMF, Dr. Raden Ayu Irawati Kusumo Rastri, menyebut bahwa tantangan terbesar festival ini ialah memastikan anak muda merasa memiliki dan terlibat aktif dalam keberlanjutan seni topeng Nusantara.
Menurutnya, IMF sejak awal pihaknya rancang agar dapat menjadi jembatan antara budaya tradisi dan minat generasi muda.
“Tantangan terbesar penyelenggaraan festival seperti ini sasarannya adalah generasi muda. Tentu agar mereka merasa memiliki, kemudian merasa harus berpartisipasi untuk meneruskannya di bidang masing-masing,” ujarnya saat konferensi pers di Ibis Styles Hotel Solo pada Kamis, 13 November 2025.
Irawati juga mengungkapkan bahwa, adanya Banda Neira merupakan strategi baru IMF dalam dua tahun terakhir untuk menarik minat penonton muda.
“Atas dukungan Dinas Pariwisata dan Olahraga Jawa Tengah, kami mendatangkan artis nasional agar menarik penonton muda. Mereka memang datang ingin melihat artis idolanya, tapi sebelumnya mereka akan melihat tarian-tarian topeng yang tergelar,” jelasnya.
Melalui IMF, Irawati berharap anak muda yang awalnya hanya datang untuk menikmati konser, kemudian menjadi tertarik dan bangga terhadap kekayaan seni topeng Indonesia. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





