SEMARANG, beritajateng.tv – Penyandang tuna rungu atau Teman Tuli telah menunjukkan ketangguhan dan semangat dalam berbagai aktivitas. Meskipun menghadapi keterbatasan komunikasi, mereka terus berjuang mendapatkan kesetaraan di berbagai aspek.
Salah satu upaya dalam memperjuangkan kesetaraan tersebut adalah dengan membentuk Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin). Berdiri pada tahun 23 Februari 1981, Gerkatin terus melebarkan sayapnya di berbagai kota di Indonesia, salah satunya Semarang.
Ketua DPC Gerkatin Kota Semarang Mahendra Teguh Kriswanto mengatakan visi misi utama Gerkatin adalah untuk menyuarakan hak rekan-rekan tuna rungu.
“Kita punya visi misi untuk menyuarakan hak dari Teman Tuli seperti mendapat akses pendidikan, akses pekerjaan, akses transportasi, akses layanan, dan lain-lain,” jelasnya kepada beritajateng.tv, Senin (22/5/2023).
Salah satu keberhasilan perjuangan Teman Tuli adalah dalam akses transportasi. Contohnya, saat ini banyak transportasi umum seperti BRT yang sudah menyediakan running text berisi informasi rute tujuan dan pemberhentian. Menurut Mahendra, hal tersebut sangat membantu Teman Tuli dalam mengakses transportasi umum.
Problematika Teman Tuli
Sementara di sisi lain, salah satu permasalahan utama Teman Tuli yskni masih mengalami diskriminasi dan kesulitan akses memperoleh pekerjaan. Oleh karenanya, ia bersama Gerkatin Semarang aktif melakukan advokasi ke berbagai perusahaan agar mampu menerima rekan-rekan tuna rungu.
“Kita mengadakan advokasi ke perusahaan-perusahaan yang mau menerima Teman Tuli karena banyak rekan-rekan tuna rungu dengan umur tua yang belum bekerja,” lanjutnya.
Memiliki tujuan memberikan akses setara kepada rekan-rekan tuna rungu, membuat Mahendra bersama Gerkatin terus menunjukan eksistensinya dalam berbagai acara. Tak hanya seputar bahasa isyarat, Gerkatin turut melaksanakan pelatihan di berbagai bidang.
“Selain acara-acara peringatan Hari Tuli Internasional, Hari Bahasa Isyarat Internasional, kami juga mengadakan latihan membatik, ecoprint, membuat buket dan lain-lain,” jelas Mahendra.
Sempat terkendala Pandemi Covid-19 yang membatasi pertemuan tatap muka, kini Gerkatin Semarang mulai aktif kembali dalam berbagai kegiatan positif, salah satunya adalah pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo), baik untuk rekan-rekan tuna rungu maupun teman dengar.
Hal tersebut karena Bisindo bukan hanya untuk rekan-rekan tuna rungu, namun juga dapat dipelajari oleh teman dengar. Menurut Mahendra, memelajari Bisindo adalah salah satu langkah yang dapat dilakukan oleh teman dengan dalam menerima rekan-rekan tuna rungu.
“Harapan saya, teman dengar mau menerima kami tanpa mendiskriminasi dan membeda-bedakan, kita sama-sama ciptaan Tuhan, yang beda hanya komunikasinya,” pungkasnya (*).
Editor: Andi Naga Wulan.





