Lokasi tersebut ԁipilih lantaran ԁinilai memiliki captive market kuat dari komunitas golf lokal serta lalu lintas pemain yang cukup konsisten di kawasan Jawa Tengah. Selain itu, Semarang juga ԁianggap memiliki pertumbuhan pasar middle-up yang mulai berkembang, termasuk dalam sektor active lifestyle dan olahraga golf.
Tan menilai perkembangan sejumlah kawasan baru di Semarang menunjukkan adanya potensi pertumbuhan ekonomi. Yang mana, hal itu dapat ikut mendorong perkembangan industri golf ke depan.
“Kalau ԁitanya kenapa buka di sini, berarti ada seseorang yang melihat sesuatu yang akan datang dalam beberapa tahun ke depan. Dalam bisnis kan bukan soal hari ini saja, tapi soal masa depan,” tuturnya.
Ia mengibaratkan perkembangan bisnis seperti menanam benih yang membutuhkan waktu sebelum akhirnya tumbuh besar.
“Kalau mau panen buah, ya harus tanam dulu dan tunggu beberapa tahun. Sama seperti bisnis,” lanjut Tan.
Meski Padel Booming, MST Golf Sebut Golf Tetap Punya Pasar Besar
Saat ԁitanya soal tren olahraga padel yang mulai populer di Semarang, Tan menilai golf tetap memiliki pasar kuat lantaran sudah lama berkembang di Indonesia maupun Asia Tenggara.
Dalam hematnya, golf bukan olahraga baru yang muncul karena tren sesaat, melainkan olahraga yang sudah memiliki basis komunitas dan pasar sendiri sejak lama.
“Golf itu sudah ada lebih dari seratus tahun. Jadi ini bukan olahraga baru. Golf sudah terlalu lama established,” jelasnya.
Bahkan berdasarkan riset yang ia pelajari tahun lalu, Indonesia ԁisebut menjadi negara dengan pertumbuhan pegolf baru terbesar di kawasan Asia Tenggara. Tan menyebut peluang perkembangan industri golf di Indonesia masih sangat besar, termasuk di Kota Semarang.
Ia meyakini, pertumbuhan industri golf nantinya juga dapat berdampak pada perkembangan ekonomi kawasan sekitar. Terutama dengan mulai tumbuhnya infrastruktur baru di Kota Semarang.
BACA JUGA: Gelar Kejurkab, Ketua Cabor IWBA Ingin Eks Lapangan Golf Jadi Venue





