Pariwisata

Grebeg Subali Semarang, Gunungan Gemblong Bakar jadi Simbol Kerekatan Warga

×

Grebeg Subali Semarang, Gunungan Gemblong Bakar jadi Simbol Kerekatan Warga

Sebarkan artikel ini
Grebeg Subali Semarang, Gunungan Gemblong Bakar jadi Simbol Kerekatan Warga
Prosesi arak-arakan Grebeg Subali Semarang 2026. (Ellya/beritajateng.tv/

Tokoh Subali tetap menjadi bagian penting dalam konsep kirab. Sosok tersebut dipilih sebagai respons kebudayaan terhadap sejarah dan penamaan sejumlah wilayah di Krapyak.

“Ini sebagai bagian dari kesadaran sejarah kami akan wilayah kami yang bernama Jalan Subali, baik Subali Raya maupun yang lainnya,” kata Tri.

Nama Subali hingga Hanoman Jadi Jejak Sejarah Kampung

Krapyak memiliki sejumlah nama wilayah yang berkaitan dengan tokoh wanara atau kera dalam cerita pewayangan.

Selain Subali, terdapat nama Hanoman, Sugriwa dan Hanilo. Sejumlah wilayah lain juga menggunakan nama berdasarkan pawukon atau tempat singgah, seperti Jalan Mandasia, Watugunung, Kurantil, Julungwangi dan Galungan.

Penamaan tersebut menjadi bagian dari identitas kawasan yang ingin kembali diingat melalui Grebeg Subali.

“Karena itu, Grebeg Subali menjadi ruang bagi warga untuk kembali mendalami asal-usul penamaan wilayah sekaligus menyadari keberadaan mereka sebagai satu keluarga besar di Kelurahan Krapyak,” tambahnya.

Kampung Subali di RT 2/RW 4 bahkan disebut sebagai salah satu kawasan perkampungan tertua di Krapyak.

Menurut Tri, kawasan tersebut telah dihuni sejak sekitar 1800-an atau pada masa Perang Diponegoro. Sejumlah rumah lama juga masih berada di kawasan tersebut hingga sekarang.

Jejak keberadaan kampung itu juga terlihat dalam peta tahun 1908. Saat itu, deretan rumah telah berdiri di kawasan yang kini dikenal sebagai Jalan Siliwangi.

Jalur tersebut dahulu menjadi bagian dari Jalan Daendels. Jejak sejarah itu menunjukkan bahwa kawasan Krapyak telah berkembang melalui perjalanan panjang sebagai kampung kota.

“Sejarahnya cukup panjang sebagai satu kampung. Kita belajar bagaimana tetap mempertahankan kita sebagai bagian dari kampung kota yang ada di Semarang untuk menghadapi segala tantangan yang ada,” pungkas Tri.

Grebeg Subali Kembali Hidupkan Tradisi Kampung

Grebeg Subali bukan tradisi yang baru muncul. Kegiatan tersebut pertama kali di inisiasi pada 2012 di Kampung Subali.

Kegiatan kemudian berlanjut pada 2016. Setelah itu, Grebeg Subali kembali digelar pada 2019 sebelum pandemi Covid-19 menghentikan sejumlah kegiatan masyarakat.