Pada 2026, tradisi tersebut kembali digelar dengan rangkaian kegiatan selama tiga hari. Selain kirab budaya, panitia menghadirkan workshop dan pertunjukan wayang.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, mengatakan keberlanjutan tradisi sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat.
“Pastinya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata ingin kebudayaan itu tumbuh tidak hanya di tingkat pemerintah kota, tetapi masyarakat,” jelas Iin, sapaan akrabnya.
Iin berharap Grebeg Subali dapat kembali terlaksana pada 2027 dengan rangkaian kegiatan yang semakin beragam.
Menurutnya, keterlibatan lintas generasi menjadi modal penting agar tradisi tidak berhenti sebagai agenda tahunan.
“Nilai-nilai tradisi yang kita lestarikan harapannya tidak hanya dari kami, tetapi masyarakatnya ikut bergerak, terutama generasi muda. Kalau kita lihat bersama, mulai dari generasi muda sampai senior pun ada semua,” pungkasnya. (*)





