Meski industri pengolahan atau manufaktur masih menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah dengan kontribusi 33,43 persen, sektor pertanian tetap memiliki peran krusial. Pada 2025, kontribusi pertanian tercatat sekitar 12,88 persen dan menjadi salah satu penopang utama ekonomi daerah.
“Industri pengolahan memang besar, tetapi ke depan akan ada tantangan lingkungan. Pertanian justru lebih berkelanjutan jika pengelolaannya dengan konsep green job,” katanya.
Nilai Tukar Petani Jadi Modal Kuat
Sebagai daerah agraris, Jawa Tengah juga memiliki modal penting berupa nilai tukar petani (NTP) tertinggi secara nasional, yang konsisten berada di atas angka 110 selama hampir satu dekade terakhir. Kondisi ini menunjukkan tingkat kesejahteraan petani yang relatif membaik.
“Ini potensi besar. Jika pertumbuhan ekonomi terbangun dari bawah ke atas melalui pertanian dan green job, maka pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah akan lebih inklusif,” tegas Vitradesie.
BACA JUGA: Dukung MBG, Pemkab Blora Dorong Petani Melon Hidroponik Lokal Pasok SPPG
Vitradesie menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam memperkuat kebijakan green job di sektor pertanian. Mulai dari edukasi, penguatan rantai pasok, hingga penciptaan iklim kerja yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
“Jawa Tengah mau tidak mau harus tertumpu pada pertanian. Dengan green job, pertumbuhan ekonomi bisa tetap tinggi tanpa mengorbankan lingkungan,” pungkasnya. (*)
Editor: Farah Nazila













