SEMARANG, beritajateng.tv – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Organisasi Angkutan Darat (Organda) mengungkapkan lonjakan harga pelumas, ban, dan suku cadang kendaraan mulai membebani operasional perusahaan angkutan umum maupun logistik di Indonesia.
Sekjen DPP Organda, Kurnia Lesani Adnan, mengatakan kenaikan biaya perawatan kendaraan sudah terjadi sejak 2023 dan terus meningkat hingga 2025.
“Sparepart itu sudah naik kurang lebih 30 persen. Ditambah perang global ini membuat harga kebutuhan operasional semakin cepat melambung,” ujar Kurnia saat beritajateng.tv temui di Hotel New Puri Garden Semarang pada Selasa, 19 Mei 2026.
Menurutnya, kenaikan paling signifikan terjadi pada komponen pelumas dan ban kendaraan.
“Pelumas ini yang gila-gilaan harganya. Yang tadinya kisaran Rp7,5 juta sekarang sudah sampai Rp11 juta. Ban juga sudah diumumkan supplier akan naik sekitar 20 persen lagi,” katanya.
Meski demikian, Organda mengaku masih menahan kenaikan tarif angkutan karena mempertimbangkan daya beli masyarakat yang tengah melemah.
“Kami tidak mau gegabah. Kalau sekarang naik, lalu nanti BBM subsidi ikut naik lagi, masyarakat juga bingung,” ucapnya.
Harga Pelumas hingga Ban Naik, Organda Mulai Hitung Skema Penyesuaian Tarif Angkutan
Namun, Organda mulai menghitung skema penyesuaian tarif apabila kondisi biaya operasional terus memburuk hingga pertengahan tahun.
“Kemungkinan kita akan naikkan tarif sekitar 40 persen. Ukurannya nanti di Juni, karena kami masih menunggu arah kebijakan pemerintah soal BBM,” tegas Kurnia.
Selain biaya perawatan, operator angkutan juga menghadapi kenaikan biaya jalan seperti tarif tol dan upah operasional. Untuk menyiasati kondisi tersebut, perusahaan mulai mengurangi jumlah armada yang beroperasi dan meningkatkan utilisasi kendaraan.
“Kalau biasanya satu bulan beli 100 ban, sekarang mungkin cukup 70 atau 80. Jadi maintenance cost-nya kita tahan,” jelasnya.





