BLORA, beritajateng.tv – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai berdampak pada kenaikan harga berbagai jenis oli kendaraan di sejumlah daerah. Di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, para pedagang mengeluhkan lonjakan harga oli yang mencapai hingga 40 persen dalam sebulan terakhir.
Kenaikan harga terjadi pada berbagai merek oli yang beredar di pasaran, baik untuk kendaraan roda dua maupun roda empat. Oli yang sebelumnya dijual dengan harga rata-rata Rp50 ribu per liter kini mengalami kenaikan menjadi sekitar Rp80 ribu per liter.
Salah satu pedagang oli di Blora, Tamrin, mengatakan kenaikan harga tersebut mulai dirasakan sejak sekitar satu bulan terakhir. Menurutnya, sebagian besar produk oli masih bergantung pada bahan baku maupun komponen yang dipengaruhi nilai tukar dolar AS.
“Dalam beberapa minggu terakhir harga oli terus naik. Hampir semua merek mengalami penyesuaian harga, sehingga berdampak langsung pada penjualan,” ujarnya.
BACA JUGA: Nilai Rupiah Anjlok? Berikut Ide Bisnis dengan Modal Kecil Bisa Untung Banyak
Kenaikan harga ini juga berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat. Banyak konsumen memilih menunda penggantian oli atau mencari alternatif produk dengan harga yang lebih terjangkau.
Mujaeni, salah seorang warga Blora, mengaku cukup keberatan dengan kenaikan harga tersebut. Menurutnya, biaya perawatan kendaraan kini semakin tinggi di tengah kebutuhan rumah tangga yang juga mengalami kenaikan.
“Kalau harga oli naik terus tentu memberatkan. Padahal penggantian oli rutin penting untuk menjaga kondisi kendaraan,” katanya.
Para pedagang menyebut penjualan oli mengalami penurunan sejak harga mulai merangkak naik. Mereka berharap kondisi nilai tukar rupiah segera membaik agar harga produk otomotif kembali stabil dan daya beli masyarakat dapat pulih.
BACA JUGA: Dolar Naik Dratis, Berikut Penyebab Pelemahan Nilai Rupiah dan Dampaknya
Kenaikan harga oli menjadi salah satu dampak yang sektor otomotif rasakan akibat tekanan nilai tukar rupiah. Jika kondisi ini terus berlanjut, para pelaku usaha khawatir penjualan akan semakin menurun dan berdampak pada aktivitas ekonomi di sektor perdagangan suku cadang dan perawatan kendaraan. (*)
Editor: Farah Nazila





