SEMARANG, beritajateng.tv – Lima rektor perguruan tinggi swasta (PTS) di Kota Semarang bertemu untuk membahas nasib wartawan di era teknologi Artificial Intelligence (AI).
Mereka bertemu dalam Dialog 5 Rektor yang bertajuk “Masa Depan Pers di Era AI” dalam peringatan Hari Pers Nasional (HPN), di Aula RS Universitas Muhamadiyah Semarang (Unimus), Rabu, 5 Februari 2025.
Mereka adalah Unimus, Universitas Wahid Hasyim (Unwahas), Universitas Sultan Agung (Unissula), Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), dan Universitas Semarang (USM).
Wakil Rektor Unimus, Dr Eny Winaryati mengatakan, pers atau wartawan harus mampu beradaptasi dengan kemajuan AI. Dengan begitu, wartawan dapat memberikan dampak positif terhadap masyarakat dalam tiap pemberitaannya.
Menurut Eny, AI bisa membantu wartawan dalam memenuhi kerja-kerja jurnalistik. Salah satunya memberikan kreativitas tambahan bagi insan pers dalam melakukan peliputan.
Selain itu, teknologi big data dalam AI juga akan sangat membantu wartawan dalam menyajikan informasi yang mendalam.
“Misalnya big data menjadi bagian yang bisa ditelisik lebih jauh lagi, jadi bahan laporan investigasi misalnya, atau membuat strategi-strategi metode yang bisa berdampak lebih luas lagi,” ucap Eny usai kegiatan.
BACA JUGA: Hari Pers Nasional, Warga Blora Beri Kejutan Ulang Tahun Buat Bupati Blora
Sementara itu, Rektor USM, Dr Supari menekankan jika wartawan dan perguruan tinggi memiliki ikatan yang sangat penting. Keduanya harus bekerja sama untuk menyiapkan generasi terbaik di masa mendatang. Termasuk dengan memanfaatkan AI.
“Mahasiswa dididik ilmu di kelas, ketika di luar kelas mereka dididik oleh pers. Oleh karena itu, dengan adanya AI ini tidak bisa kita tolak, tidak bisa kita hindari,” kata dia.
Oleh karena itu, Supari berharap wartawan dan mahasiswa mampu memanfaatkan AI dengan semaksimal mungkin. Hal itu demi mewujudkan mimpi Indonesia Emas mendatang.
“Kita semua mesti beradaptasi, justru kita ikut membangun AI supaya bisa lebih banyak membantu pers, membantu pendidikan tinggi, tujuannya sama-sama untuk Indonesia Emas,” paparnya.
Sisi positif AI dalam kerja jurnalistik
Sementara itu, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah, Amir Machmud menuturkan, setiap teknologi pasti memiliki sisi positif dan sisi negatif. Termasuk pemanfaatan AI dalam kerja-kerja jurnalistik.
Sisi positifnya, kata Amir, wartawan bisa memanfaatkan AI sebagai perangkat untuk memperkuat informasi-informasi yang akan disampaikan. Di sisi lain, AI juga bisa membawa dampak negatif.
Meski begitu, Amir menyebut jika AI semestinya tidak menjadi sesuatu yang menakutkan dan mengancam kerja-kerja jurnalistik. Akan tetapi wartawan bisa memanfaatkan AI dengan semaksimal mungkin.
“Kita harus berhati-hati terhadap dampak yg bersifat negatif. Siapa yang mengendalikan teknologi, itu yang nantinya bisa menentukan untuk apa sesungguhnya kelebihan dari AI bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin,” katanya.
Ia menambahkan, tantangan terbesar di dunia wartawan dan media massa saat ini adalah masalah penghayatan etika. Artinya, dalam menyampaikan informasi, wartawan harus mematuhi rambu-rambu yang ada seperti UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik.
Dengan begitu, wartawan tidak akan membuat berita bohong, berita pemecah belah, atau berita bermuatan SARA.
“Jadi penggunaan AI itu kembali lagi pada masalah etikanya. Kalau etika dengan itikad untuk menyelamatkan media, menyelamatkan dunia kewartawanan, menyelamatkan masyarakat, ini pasti akan melahirkan produk yang bermaslahat bagi semuanya,” tandas Amir. (*)
Editor: Farah Nazila





