Alasan Mbah Hadi nekat memaksa Mbah Sholeh pulang karena di Jawa masih banyak umat yang awam dengan ajaran Islam. Sesampainya di Jawa, Mbah Sholeh sempat mengajar di sebuah Pondok di Salatiyeng Purworejo. Barulah pada 1870 beliau mendirikan Pondok sendiri di Kampung Darat Semarang. Dari sinilah nama “Darat” disematkan untuk Mbah Sholeh.
Ada kisah menarik saat perjalanan Mbah Sholeh menuju Semarang dari Purworejo, saat itu dia berjalan kaki dan ada rombongan mobil yang ditumpangi tentara Belanda. Saat melewati Mbah Sholeh, mobil tentara Belanda mogok begitu saja tanpa tahu apa sebabnya. Namun saat tentara Belanda mengajak Mbah Sholeh menumpang, tiba-tiba mobil tersebut dapat melaju kembali.
Di lain waktu, pemerintah Belanda mencoba menyogok Ki Sholeh Darat dengan menghadiahinya banyak uang dengan harapan dia mau berkompromi dengan pemerintah Belanda. Mengetahui hal ini, Ki Sholeh Darat marah dan mengubah bongkahan batu menjadi emas di hadapan utusan Belanda itu. Tapi kemudian Ki Sholeh menyesal telah memperlihatkan karamah-nya di depan banyak orang. Dia dikabarkan banyak menangis saat mengingat kembali kejadian itu hingga akhir hayatnya.
Koordinator Komunitas Pecinta Kiai Sholeh Darat (Kopisoda) KH In’am Muzahidin mengatakan, kegiatan haul akan menghadirkan Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Asrori.
“Panitia haul telah mengundang Katib Aam PBNU KH Said Asrori untuk menyampaikan taushiyah pada puncak haul Mbah Sholeh Darat,” ujarnya.
Dikatakan oleh Katib PCNU Kota Semarang tersebut, selain agenda pucak acara berupa pembacaan yasin, tahlil, dan mauidhah hasanah, panitia juga mengendakan kegiatan penunjang berupa sarasehan dan workshop di Gedung PCNU Kota Semarang, Jalan Puspogiwang pada Selasa (10/5) milai jam 9 pagi.
“Pada malam harinya akan digelar pengajian umum di Masjid Ndarat, Semarang Utara bersama Habib Hamid bin Sholeh Ba’agil,” ucapnya.





