Gaya Hidup

Hilang Puluhan Tahun, Film “Turang” Karya Bachtiar Siagian Mampir Tayang Perdana di Kota Semarang

×

Hilang Puluhan Tahun, Film “Turang” Karya Bachtiar Siagian Mampir Tayang Perdana di Kota Semarang

Sebarkan artikel ini
Film Turang
Diskusi usai penayangan film Turang (1957) di Rumah Po Han, Kota Semarang, Selasa, 29 April 2025 malam. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

Pemutaran film Turang kali pertama berlangsung di Istana Negara, di hadapan Presiden Soekarno. Pada tahun 1960, Turang meraih predikat film terbaik dalam Pekan Apresiasi Film Nasional, yang merupakan cikal bakal Festival Film Indonesia (FFI).

Bagi Bunga, menemukan Turang kembali pada 2023 bertepatan dengan situasi genting dunia. Ia mencontohkan situasi yang terjadi di Palestina saat ini.

“Turang hadir di saat dunia dalam situasi yang genting, yang mana sistem kolonialisme dan imperialisme tampak jelas dominasinya. Apa yang terjadi di Palestina saat ini menunjukkan bagaimana sebetulnya sistem itu adalah sistem yang menjadi musuh bersama dari negara dunia ketiga periode 60-an, pascaperang dunia kedua,” pungkas Bunga.

BACA JUGA: Pengepungan di Bukit Duri: Film Fiksi Dystopia Joko Anwar Ungkap Detail Produksi dan Visual Menggugah

Sejarawan ungkap Turang gambarkan situasi “chaos” pascakemerdaan Indonesia

Tak hanya melibatkan sineas, sejarawan juga turut hadir dalam penayangan perdana film Turang setelah hilang bertahun-tahun. Sejarawan sekaligus guru sejarah asal Kota Semarang, Joseph Army Sadhyoko, menyoroti salah satu scene yang menurutnya menarik pada masa revolusi pascakemerdekaan.

“Sebagai contoh, di film Turang ada tentara Belanda yang mengambil [mencuri] telur. Perilaku antara yang berseragam dan tidak berseragam, antara pemberontak dengan yang namanya tentara, baik dari kubu republik maupun kubu pemerintah kolonial Belanda yang jadi antek Belanda dari warga pribumi, itu perilakunya mirip. Antara pejuang dan penjahat itu hampir mirip di situasi revolusi,” ungkap Joseph.

Film yang mengambil latar tempat di Kabanjahe, Kabupaten Karo itu bagi Joseph menggambarkan situasi pascakemerdekaan di Indonesia yang chaos.

“Kenapa begitu? Karena memang situasi negara setelah kita merdeka, digambarkan di film ini. Mau Agresi Militer Belanda I atau II, situasi negara chaos. Siapa pun yang terlibat dalam situasi perang setelah kita menyatakan kemerdekan 17 Agustus 1945, banyak yang pasang peran ganda, karena apa? Harus survive, bertahan hidup,” beber Joseph.