Gaya Hidup

Pengepungan di Bukit Duri: Film Fiksi Distopia Joko Anwar Ungkap Detail Produksi dan Visual Menggugah

×

Pengepungan di Bukit Duri: Film Fiksi Distopia Joko Anwar Ungkap Detail Produksi dan Visual Menggugah

Sebarkan artikel ini
Pengepungan di Bukit Duri: Film Fiksi Distopia Joko Anwar Ungkap Detail Produksi dan Visual Menggugah
Cinema Visit dan Diskusi Film Pengepungan di Bukit Duri bersama Joko Anwar di XXI DP Mall Semarang. (Steve Arie/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Setelah meraih perhatian besar lewat peluncuran trailer dan poster resmi, film terbaru karya Joko Anwar Pengepungan di Bukit Duri (judul internasional: The Siege at Thorn High) kini membagikan serial video di balik layar.

Video ini menyoroti bagaimana tim produksi, terutama desainer dan kru artistik, membangun dunia Jakarta versi 2027 yang penuh kekacauan dan kemunduran.

Salah satu lokasi ikonik film ini adalah SMA Bukit Duri, yang di bangun di atas kompleks Laswi Heritage di Bandung.

Dalam cerita, sekolah tersebut dulunya adalah penjara yang di ubah fungsinya, sehingga set ini di rancang dua kali: sebagai penjara lama dan sekolah baru.

Total ada 22 titik set yang di bangun secara detail, termasuk ruang kelas, kantor kepala sekolah, lorong-lorong, hingga ruang keamanan.

BACA JUGA: Deduktif.id dan End Modern Slavery Now! Raih Penghargaan Internasional atas Film Dokumenter “Border Hell”

“Sekolah ini pada dasarnya adalah transformasi dari penjara, dan kami harus menggambarkan keduanya secara nyata. Itulah tantangannya,” terang Joko Anwar di cinema visit dan diskusi di XXI DPmal Semarang, Sabtu,12 April 2025.

Dennis Sutanto, desainer produksi film ini, menambahkan bahwa proses pembangunan set memakan waktu lebih dari dua minggu, melibatkan sekitar 60–70 orang.

“Setiap ruangan dibangun dengan cerita dan karakter yang kuat,” ungkapnya.

Sementara itu, dunia di luar sekolah juga digambarkan dengan suasana distopia.

Sebuah area pecinan bawah tanah penuh kekacauan sampah, vandalisme, dan atmosfer ketidakstabilan menjadi gambaran visual utama yang menegaskan kemunduran sosial.

“Lingkungannya lebih liar, penuh ekspresi tanpa arah, dan kehancuran ada di mana-mana,” ucap Dennis.

Pemilihan Karakter

Dari sisi visual, sinematografer Jaisal Tanjung mengungkapkan bahwa penggunaan kontras menjadi pendekatan utama dalam palet warna film. Pemilihan warna di sesuaikan dengan karakter serta visi Joko Anwar.

“Fokus kami adalah storytelling, bukan gaya visual berlebihan. Kami ingin penonton tenggelam dalam cerita dan karakternya secara organik,” kata Jaisal.

Joko Anwar menegaskan bahwa karakter dalam film ini bukanlah sosok jahat, melainkan individu yang tertimpa nasib buruk. Meskipun narasinya kelam, ia berharap film ini menjadi refleksi terhadap kondisi sosial Indonesia saat ini.

“Realitas dalam film ini tak jauh dari Indonesia sekarang. Tapi kami menggambarkannya secara ekstrem untuk menyampaikan pesan, bagaimana trauma yang tak pernah di sembuhkan bisa menghancurkan sebuah bangsa. Ini peringatan tentang pentingnya saling menghormati,” tambah Joko.

Di produksi oleh Amazon MGM Studios bersama Come and See Pictures, Pengepungan di Bukit Duri dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 17 April 2025.

Film ini di bintangi Morgan Oey, Omara Esteghlal, Hana Malasan, Fatih Unru, Satine Zaneta, dan deretan aktor ternama lainnya.

Film ini mengikuti perjalanan Edwin (di perankan oleh Morgan Oey), seorang guru seni yang berusaha menemukan keponakannya yang hilang.

Pencariannya membawanya ke SMA Bukit Duri, sekolah khusus bagi remaja bermasalah. Di tengah pencarian, terjadi kerusuhan besar, dan Edwin harus bertahan hidup di dalam sekolah yang berubah menjadi medan pertempuran. (*)

Editor: Elly Amaliyah

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp