Sementara itu, kondisi berbeda disampaikan oleh Marcom Executive Novotel Semarang, Theresia Andini. Ia menyebut tingkat hunian hotelnya selama periode Nataru relatif stabil. Meski pada malam tahun baru tidak terisi penuh, okupansi tetap tergolong tinggi.
“Kalau pas tanggal 31 Desember enggak penuh, 90 persen,” ungkapnya.
BACA JUGA: Jelang Libur Nataru, Tingkat Okupansi Hotel di Kota Semarang Masih di Bawah 70 Persen
Theresia menjelaskan, tingkat hunian Novotel Semarang pada malam tahun baru mencapai sekitar 90 persen. Sedikit menurun dari periode sebelumnya yang bisa menembus 100 persen. Ia juga menyoroti adanya pergeseran puncak okupansi antara Natal dan Tahun Baru.
“[Okupansi] kebalikan sama tahun lalu. Kalau tahun lalu itu Natalnya enggak penuh, cuman tahun barunya penuh. Tapi kalau tahun ini Natalnya penuh, tapi tahun barunya enggak full,” jelasnya.
Di sisi lain, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Heru Isnawan menilai tingkat hunian hotel di Semarang selama Nataru secara umum masih stabil. Menurutnya, imbauan tidak menyalakan kembang api tidak berdampak merata ke seluruh hotel.
“Di beberapa hotel [okupansi] cukup baik. Mungkin di Ciputra [menurun] karena mereka punya atraksi tersendiri [kembang api], dan kebetulan nggak ada lalu ada sesuatu yang hilang,” tegas Heru.
Ia menambahkan, sejumlah hotel yang sebelumnya mengandalkan atraksi kembang api kini menggantinya dengan program atau acara alternatif untuk tetap menarik minat tamu selama malam pergantian tahun. (*)
Editor: Farah Nazila













