“Coding tanpa komputer ini adalah bukti bahwa inovasi bisa mulai dari hal sederhana, yang penting anak senang belajar,” pungkasnya.
BACA JUGA: Hidupkan Literasi dan Numerasi, SDN Jatisari Semarang Kenalkan Macapat-Coding Lewat Inovasi Sejati
Langkah tersebut mulai menunjukkan hasil. Salah satu guru, Sri Lestari, mengaku mendapat perspektif baru dalam mengajar setelah memahami konsep berpikir komputasional.
“Saya baru paham setelah Bu Intan menjelaskan. Ternyata cara berpikir komputasional bisa kita integrasikan ke semua mata pelajaran,” ungkapnya.
Sri kemudian mengembangkan metode pembelajaran berbasis permainan, seperti simulasi robot dengan instruksi algoritmik. Siswa diminta memberi perintah langkah demi langkah untuk mencapai tujuan tertentu.
“Ini melatih algorithmic thinking. Jika perintahnya salah urutan, robot tidak akan sampai,” jelas Sri.
Metode ini tidak berhenti pada praktik di kelas. Para guru aktif menyebarluaskan metode ini kepada guru lain melalui forum komunitas belajar yang rutin berlangsung setiap pekan. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





