Pendidikan

Inovasi Tanpa Gadget, Kepala SDN Gajahmungkur 02 Ajarkan Coding Lewat Permainan Aktivitas Fisik Siswa

×

Inovasi Tanpa Gadget, Kepala SDN Gajahmungkur 02 Ajarkan Coding Lewat Permainan Aktivitas Fisik Siswa

Sebarkan artikel ini
Gadget Coding
Kepala SDN Gajahmungkur 02, Manek Intan Permata Sari, saat mengajarkan coding kepada siswa. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Pembelajaran coding tak selalu harus menggunakan komputer atau gadget. Di SD Negeri Gajahmungkur 02 Semarang, pengajaran konsep berpikir komputasional justru melalui permainan sederhana yang melibatkan aktivitas fisik siswa.

Inovasi ini digagas oleh Kepala SDN Gajahmungkur 02, Manek Intan Permata Sari, S.Pd., M.Pd., yang mulai memimpin sekolah tersebut sejak Desember 2025.

Menurut Intan, pembelajaran yang efektif harus berangkat dari rasa senang. Ia mendorong pendekatan belajar yang menyenangkan agar siswa lebih mudah memahami materi.

“Ketika anak menikmati proses belajar, hasilnya akan jauh lebih maksimal,” ujarnya kepada beritajateng.tv baru-baru ini.

BACA JUGA: Dari Peternakan Imajiner hingga Coding, Terobosan Keren Guru SDN Pendrikan Lor 01 Bikin Siswa Ketagihan Belajar

Melalui metode ini, siswa diajak memahami konsep coding lewat aktivitas sehari-hari yang dikemas seperti permainan. Salah satu contoh yang pernah ia terapkan adalah pembelajaran matematika tentang rasio menggunakan LKPD berjudul “Kode Rahasia Koki Ajaib: Resep Jus Pembangkit Semangat”.

Dalam kegiatan tersebut, siswa menggunakan kertas berwarna sebagai representasi buah, lalu mengikuti “resep” tertentu untuk memahami perbandingan.

“Saya menyiapkan kertas berwarna merah, oranye, dan kuning yang mewakili apel, wortel, dan jeruk. Siswa bekerja berkelompok mengikuti perbandingan dalam resep,” jelasnya.

Meski terlihat sederhana, aktivitas ini melatih empat pilar berpikir komputasional, yakni abstraksi, dekomposisi, pengenalan pola, dan pemikiran algoritmik. Siswa tidak hanya menghafal, tetapi memahami alur logika di balik materi.

“Tanpa gadget pun anak bisa bermain coding,” imbuh Intan.

Tak Hanya Coding, Metode Belajar Tanpa Gadget Juga Berlaku di Mapel Bahasa Indonesia hingga Matematika

Metode serupa juga berlaku dalam berbagai mata pelajaran, mulai dari Bahasa Indonesia hingga matematika. Hasilnya, siswa menjadi lebih aktif dan antusias.

“Anak-anak jauh lebih excited. Mereka bahkan minta bermain lagi keesokan harinya,” tambahnya.

Bagi Intan, inovasi ini membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas bukan penghalang untuk menghadirkan pembelajaran berkualitas. Dengan kreativitas, guru dapat menciptakan pengalaman belajar yang relevan dan menyenangkan.