SEMARANG, beritajateng.tv – Alunan merdu musik keroncong menyita perhatian para pengendara di sekitar kawasan Eks Wonderia, Jalan Sriwijaya, Tegalsari, Kecamatan Candisari, Kota Semarang, Jumat, 29 Desember 2023 sore. Suara alat musik seperti seruling, biola, ukulele, gitar elektrik, dan cello menggema memenuhi area panggung hingga jalanan.
Para penonton yang terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia tampak asik bernyanyi dan berjoget kecil sembari bernostalgia dengan tembang-tembang lawas yang senantiasa mengalun merdu.
Grup keroncong OK Kesepuhan Semarang menjadi penampil pertama dalam acara yang bertajuk ‘Rona Keroncong Bandar Semarang’ itu. Mereka membawakan beberapa lagu antara lain Jauh di Mata Dekat di Hati, Kr. Panorama Indonesia, dan Kasih Hilang di Malam Lalu.
Bambang Wisnu, personel OK Kesepuhan Semarang mengungkapkan rasa bahagianya karena dapat tampil kembali setelah sekian lama. Apalagi, grupnya merupakan kumpulan pelestari keroncong berusia senja.
“Mbah-mbah itu seneng banget karena udah lama nggak pernah tampil, dan mereka bisa tampil ini rasanya seperti masih dimanusiakan,” ucapnya kepada beritajateng.tv.
Sesuai namanya, OK Kesepuhan memang memiliki personel dari usia lanjut. Paling muda usia 50 tahun. Sedangkan paling tua berusia 80-an tahun.
Hingga saat ini, Bambang menyebut jika OK Kesepuhan masih rutin berlatih hingga tiap hari. Bahkan, ia sendiri menggeluti profesi sebagai pembuat alat musik keroncong berbahan dasar kayu.
“Tiap hari kami masih latihan, baik yang sepuh atau yang muda-muda juga kami terbuka,” imbuhnya.
Anak muda mulai tinggalkan keroncong
Lebih lanjut, sebagai pelestari musik keroncong, Bambang mengakui jika eksistensi genre musik asli Indonesia itu kian redup. Menurutnya, generasi muda saat ini lebih mengenal genre musik luar negeri seperti western dan Kpop.
Maka dari itu, Bambang bersama OK Kesepuhan Semarang selalu terbuka untuk kembali mengenalkan musik keroncong kepada generasi muda.
“Kita tetep melakukan regenerasi, mengumpulkan anak-anak yang muda-muda yang memang mau belajar. Kita siap mengajari dari 0,” ucap Bambang yang telah melestarikan musik keroncong sejak tahun 1996 itu.
Sementara itu, salah satu penonton, Muhammad Fajar mengaku senang bisa kembali mendengar musik keroncong. Apalagi, terakhir kali ia datang ke event keroncong sudah lebih dari setahun yang lalu.
BACA JUGA: SD Negeri Pekunden Semarang Gelar ‘Konser Musik Time Step 1’ , Ajak Siswa Cintai Seni Musik
“Keroncong ini lebih segmented, nggak semua orang bisa suka keroncong, setau saya juga keroncong sedang diupayakan menjadi salah satu warisan dunia, jadi event seperti ini patut mendapat apresiasi,” ungkapnya.(*)
Editor: Farah Nazila





