Politik

Iran Lebih Pilih Turkiye dan Pakistan Jadi Penengah, Hersubeno: Blunder Diplomatik Prabowo Gabung BoP

×

Iran Lebih Pilih Turkiye dan Pakistan Jadi Penengah, Hersubeno: Blunder Diplomatik Prabowo Gabung BoP

Sebarkan artikel ini
Mojtaba Khamenei
Mojtaba Khamenei, putra almarhum Ali Khamenei, yang kini didapuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. (Foto: X/@TheMoneyApe)

SEMARANG, beritajateng.tv – Pengamat politik Hersubeno Arief menyoroti dinamika hubungan internasional Indonesia yang tengah menghadapi ujian berat. Keinginan Presiden Prabowo Subianto untuk tampil sebagai juru damai antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel tampaknya harus menemui jalan buntu.

Pemerintah Iran secara resmi lebih memilih Turkiye dan Pakistan sebagai mediator ketimbang mempertimbangkan posisi diplomasi Indonesia dalam konflik tersebut.

Kabar ini menjadi sinyal kurang menggembirakan bagi pemerintah pusat, terutama saat ketegangan di Timur Tengah kian memuncak.

Pakistan dan Turkiye kini sudah aktif menjalankan peran mereka sebagai penengah dengan menyampaikan pesan antarnegara yang bertikai.

BACA JUGA: Dampak Global Konflik Israel-AS vs Iran, Muhammadiyah Minta Umat Islam Perkuat Solidaritas

Fenomena ini menunjukkan bahwa pengaruh Indonesia pada kawasan Teluk belum cukup kuat untuk menggeser dominasi negara-negara tetangga Iran tersebut.

“Pak Prabowo harus melupakan mimpinya menjadi juru damai karena Iran lebih memilih pihak lain,” ujar Hersubeno Arief dalam kanal YouTube miliknya, Minggu, 29 Maret 2026.

Ia menilai tawaran mediasi dari Jakarta sejak awal terkesan kurang realistis bagi para diplomat karier. “Hubungan antara Indonesia dan Iran tidak begitu dekat dalam beberapa waktu terakhir,” imbuhnya lagi.

Kendala Tanker dan Posisi Diplomasi Indonesia

Persoalan kian pelik lantaran dua kapal tanker minyak milik Indonesia, Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih tertahan pada Selat Hormuz.

Sementara itu, kapal milik Malaysia justru mendapatkan izin melintas dengan mudah karena sikap politik Perdana Menteri Anwar Ibrahim yang sangat tegas.

Perbedaan perlakuan ini mencerminkan adanya kesenjangan nyata mengenai bagaimana Iran memandang posisi diplomasi Indonesia saat ini.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengakui bahwa negosiasi untuk mengeluarkan dua tanker tersebut berjalan sangat alot dan penuh tantangan.

Pemerintah kini harus berkejaran dengan waktu guna mencari pasokan energi alternatif dari negara lain di luar kawasan Timur Tengah.

BACA JUGA: Korea Utara Dukung Pemimpin Tertinggi Baru Iran Mojtaba Khamenei, Kecam Serangan AS-Israel