SEMARANG, beritajateng.tv – Empat ruangan di SD Negeri (SDN) Pendrikan Lor 02 Semarang mengalami rusak berat, atap rapuh hampir roboh dimakan rayap.
Kondisi bangunan yang rapuh membuat pihak sekolah terpaksa memindahkan kegiatan belajar mengajar demi menjaga keselamatan ratusan siswa.
Kerusakan tersebut menjadi perhatian karena terjadi di sekolah yang berada di kawasan pusat Kota Semarang.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Semarang tengah mendorong terwujudnya ekosistem sekolah yang aman dan ramah anak.
Sebelumnya, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti saat Konferensi Anak Kota Semarang 2026 menegaskan bahwa predikat Kota Layak Anak harus terwujud melalui lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak.
Berdasarkan pantauan di sekolah, ruang yang mengalami kerusakan berat meliputi kelas 2A, kelas 2B, perpustakaan, dan ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).
Selain kusen kayu yang lapuk di makan rayap, sejumlah rangka atap bangunan juga mulai rapuh karena usia bangunan yang sudah puluhan tahun.
Kepala SDN Pendrikan Lor 02 Semarang, Dwi Hartiningsih, mengatakan kondisi bangunan terus memburuk sehingga sekolah mengambil langkah darurat dengan memindahkan proses belajar ke lokasi yang lebih aman.
“Kerusakan paling parah ada di kelas 2A, kelas 2B, UKS, dan perpustakaan. Kusen kayunya hampir habis di makan rayap, sedangkan rangka atapnya sudah sangat membahayakan keselamatan siswa,” ujar Dwi, Selasa, 28 Juli 2026.
BACA JUGA: Dewan Desak Pemkot Selamatkan Sawah Produktif, Jangan Sampai Hilang Tergerus Abrasi
Untuk menghindari risiko yang tidak di inginkan, pihak sekolah mengatur kegiatan belajar secara bergantian.
Sebagian siswa menempati ruang kelas lain, sementara lainnya belajar di mushala maupun area terbuka di lingkungan sekolah.
“Saya ungsikan anak-anak ke ruang yang lebih aman. Kadang belajar di kelas lain, kadang di musala, bahkan di luar kelas. Yang penting mereka tetap bisa mengikuti pelajaran dengan aman,” katanya.
Dwi mengungkapkan, kerusakan bangunan sebenarnya sudah terlihat sejak lama. Bahkan pada Desember 2025, sebagian genting ruang kelas sempat ambruk sehingga sekolah harus melakukan perbaikan darurat menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
“Waktu itu genting sempat roboh. Kami perbaiki memakai dana BOS, tetapi hanya sebagian saja. Dana BOS tidak cukup untuk memperbaiki seluruh bangunan yang rusak,” jelasnya.
Guru senior SD Negeri Pendrikan Lor 02, Ratna Armina, menambahkan bangunan yang rusak belum pernah menjalani renovasi besar selama kurang lebih 15 tahun terakhir.
Menurutnya, sekolah sudah beberapa kali mengajukan permohonan rehabilitasi kepada instansi terkait, namun hingga kini belum terealisasi.
“Sudah sekitar 15 tahun belum ada renovasi besar. Kami sudah mengajukan perbaikan, tetapi sampai sekarang belum ada realisasi,” ungkap Ratna.
Meski menghadapi keterbatasan sarana, sekolah tetap berupaya memberikan layanan pendidikan bagi 298 siswa. (*)





