Jateng

Jejak Perang Dunia II dan Kisah Keluarga yang Terpisah di Ereveld Kalibanteng Semarang

×

Jejak Perang Dunia II dan Kisah Keluarga yang Terpisah di Ereveld Kalibanteng Semarang

Sebarkan artikel ini
monumen perempuan ereveld kalibanteng
Monumen perempuan di Ereveld Kalibanteng, Kota Semarang, Sabtu, 15 Agustus 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

Pertama, 27 Februari, untuk memperingati Pertempuran Laut Jawa yang kegiatan utamanya berlangsung di Ereveld Kembang Kuning, Surabaya.

Kedua, 4 Mei, bertepatan dengan peringatan nasional untuk mengenang korban perang di Belanda dan diperingati antara lain di Ereveld Menteng Pulo.

Ketiga, 15 Agustus, untuk memperingati berakhirnya Perang Dunia II di Asia.

Dalam momen tersebut, bendera Belanda dapat di kibarkan sebagai bagian dari penghormatan terhadap para korban perang. Siti menjelaskan, dalam peringatan tertentu bendera juga di kibarkan setengah tiang sebagai simbol berkabung.

Selain tanggal-tanggal tersebut, bendera Belanda juga dapat di kibarkan ketika terdapat kunjungan delegasi resmi sesuai ketentuan dan kesepakatan pemerintah Indonesia dan Belanda.

BACA JUGA: Mengenang 81 Tahun Berakhirnya Perang Dunia II Asia, Ereveld Kalibanteng Semarang Jadi Ruang Refleksi dan Perdamaian

Siti mengatakan pihaknya tidak berfokus pada perdebatan politik atau label terhadap orang-orang yang di makamkan di sana. Namun, menjaga cerita agar perang tidak terulang.

“Yang jadi concern kami lebih bagaimana kita menggunakan cerita-cerita korban perang agar kita tidak melakukan kesalahan yang sama,” ujarnya.

Menurutnya, semakin banyak konflik terjadi di berbagai belahan dunia, semakin penting pula masyarakat mengingat dampak perang.

“Kalau kita sudah lupa akan sejarah, kecenderungan kita akan melakukan kesalahan yang sama,” pungkasnya. (*)

Editor: Farah Nazila

 

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp