Ia juga mengaku tidak sampai harus memangkas pos pengeluaran lain demi membayar pajak kendaraan. “Enggak ada. Semoga enggak ada,” ucapnya singkat.
Saat menanggapi apakah kebijakan opsen PKB sudah mempertimbangkan kondisi wajib pajak, Kurniawan mengaku tidak terlalu memahami aspek kebijakan tersebut. Ia justru menyoroti soal kepatuhan wajib pajak, termasuk ia sendiri.
“Kalau soal kepatuhan pajak, saya termasuk yang enggak terlalu patuh. Kadang lupa tanggal bayar pajak, kadang juga enggak ada waktu buat ngurus. Jadi beberapa kali pas bayar pajak ya sekalian bayar denda telat,” ujarnya.
Terhadap kebijakan opsen PKB, Kurniawan menilai beban terbesar justru terasa oleh masyarakat berpenghasilan rendah yang memaksakan diri memiliki kendaraan di luar kemampuan ekonominya.
“Masyarakat yang pendapatannya di bawah UMR tapi sok-sokan ambil mobil mewah, misalnya Jeep Jimny, ya wasalam bayar pajaknya. Kalau orang sadar dengan pos penghasilan dan sudah mikir kebutuhan pajak tahunan, saya rasa masih bisa diatur. Minimal enggak terlalu memberatkan sampai bikin pusing,” pungkasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





