SEMARANG, beritajateng.tv – Berkaca dari banjir yang menggenangi kawasan Kaligawe dan Genuk hampir dua pekan lamanya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah mengingatkan warga agar lebih waspada menghadapi masa pancaroba menuju musim penghujan.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, mengatakan saat ini wilayah Jawa Tengah sedang memasuki masa peralihan dari kemarau ke musim hujan. Bahkan, kata Bergas, fase kritis akan terjadi pada Januari-Februari mendatang.
“Kalau dari informasi BMKG, puncaknya itu di Januari-Februari. Di masa transisi ini pasti hujannya deras, anginnya kenceng. Jadi dari laporan-laporan kami, pohon tumbang itu banyak, kemudian hujan deras pasti terjadi, banjir di mana-mana,” ujar Bergas via panggilan WhatsApp, Kamis, 6 November 2025 malam.
BACA JUGA: Komunitas Motor Semarang Ikut Cek SPBU Terdampak Banjir dan Rasakan Pertamax Green
Bergas menegaskan, masa pancaroba ini identik dengan cuaca ekstrem dan peralihan kondisi tanah yang belum stabil. Oleh sebab itu, ia meminta pemerintah daerah maupun masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan, utamanya di wilayah rawan bencana.
“Harapan kami, semua pemerintah daerah, BPBD, relawan sampai masyarakat harus waspada melihat cuaca. Kalau tempatnya banjir, barang-barang di bawah bisa disiapkan untuk dinaikkan sebelum evakuasi. Kalau di longsor, ya menutup retakan-retakan yang ada,” ujarnya.
BPBD Jateng tegaskan tanggul laut bukan penyebab banjir Kaligawe-Genuk
Lebih jauh, Bergas turut menanggapi dugaan bahwa tanggul laut menjadi penyebab banjir merendam Kaligawe-Genuk dua pekan lamanya. Justru, Bergas menilai tanggul laut menjadi solusi jangka panjang untuk menangani banjir di wilayah pesiisr.
“Tanggul laut ini justru menjadi solusi jangka panjang. Hanya saja sistem tanggul laut ini yang harus dilengkapi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, saat banjir terjadi, beberapa bagian sistem tanggul belum rampung. Namun, setelah dibentuk Satuan Tugas (Satgas) Pompa, penanganan lebih cepat dilakukan sehingga genangan mulai surut hanya dalam empat hari.
“Walaupun Satgas Pompa ini bekerja 10 hari, ternyata dalam kurun waktu 4 hari sudah bisa disaksikan cenderung hampir di semua titik terjadi penyurutan. Itulah efektivitas dari perjalanan ini, menutupi kekurangan yang ada,” tutur dia.
Menurutnya, upaya perbaikan sistem ini akan memperkuat kesiapan menghadapi puncak musim hujan mendatang.
Banjir Kaligawe-Genuk sejak akhir Oktober masih tergolong kelas “sedang”
Meskipun baru surut setelah dua pekan lamanya, Bergas menyebut jenis banjir yang merendam Kaligawe-Genuk sejak Selasa, 21 Oktober lalu itu merupakan banjir dengan skala sedang.
“Sebetulnya nih sedang ya, belum yang kelas berat itu, belum. Apalagi tambah TMC (Teknologi Modifikasi Cuaca), kan begitu. Tinggal memperbaiki sistem ini loh, maka sebelumnya kolam retensi ini sebagai penyeimbang,” ucapnya.
Ia menambahkan, pompa sebagai sistem penyeimbang itu berfungsi menjaga stabilitas mekanisme air yang masuk ke kota. “Kalau kurang pompanya, berarti lengkapi sistemnya. Kalau belum siap di tanggal sekian harus percepat,” katanya.
BACA JUGA: Bocah Hilang di Selokan Semarang Meninggal, Korban Banjir Bertambah Jadi 4
Soal pasokan logistik yang juga sempat warga sekitar keluhkan, Bergas mengakui titik distribusi bantuan di Kota Semarang sebenarnya sudah tersedia di banyak lokasi, termasuk dapur umum dari pemerintah maupun masyarakat.
“Titik-titik pusat bantuan logistik itu ada di beberapa titik. Tinggal mengaksesnya saja. Kata kuncinya memang tidak terlepas dari struktur kewilayahan, mulai dari Pak RT, Pak RW, Pak Lurah, Pak Camat,” ujarnya.
Menurutnya, partisipasi warga menjadi kunci dalam mendukung kelancaran distribusi bantuan. “Bencana adalah urusan bareng-bareng. Kata kuncinya respect saja,” pungkas Bergas. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





