Berdasarkan jumlah Zona Musim (Zom), pada Januari 2027 sebanyak 24 Zom atau 40 persen dari luas wilayah Jateng, perkiraannya mengalami puncak musim hujan.
Kemudian pada Februari sebanyak 22 Zom, dan Maret sebanyak delapan Zom.
“Bila kita bandingkan dengan kondisi normalnya, maka musim hujan perkiraanya mundur akibat dampak kemarau lebih panjang dan anomali iklim El Nino sangat kuat, serta IOD positif,” kata Zauyik Nana Ruslana.
Dia mengatakan, sebagian besar wilayah Jawa Tengah, mengalami awal musim hujan yang mundur lebih dari satu bulan atau tiga dasarian dibandingkan kondisi normal.
BACA JUGA: Trauma Longsor Besar di Desa Ngrawan, Warga Tolak Eksplorasi Geothermal Gunung Telomoyo
Secara umum, durasi musim hujan 2026-2027 perkiraanya berlangsung selama lima hingga enam bulan.
Karena itu, menjelang musim hujan, Stasiun Klimatologi Jawa Tengah mengingatkan masyarakat untuk mempersiapkan diri dengan baik.
Terlebih, terdapat potensi bencana hidrometeorologis yang perlu jadi kewaspadaan, terutama saat masa pancaroba.
BACA JUGA: Rencana Pemerintah Ngebor 19 Titik Geothermal di Jawa Tengah Terungkap
Selain masyarakat, sektor pertanian juga harus mewaspadai potensi banjir serta mengoptimalkan kebersihan saluran irigasi.
“Waspadai banjir bandang, longsor, dan puting beliung pada pancaroba. Jika awal musim hujan prediksinya terjadi pada November, maka pancaroba mulai pertengahan Oktober sebagai masa peralihan musim,” kata Zauyik Nana Ruslana. (*)
Editor: Diaz A Abidin





