SEMARANG, beritajateng.tv – Upaya menekan penyalahgunaan narkoba di Jawa Tengah tidak hanya ԁiarahkan pada pencegahan, tetapi juga memperkuat sisi rehabilitasi. BNN Provinsi Jawa Tengah mulai membidik mahasiswa psikologi sebagai calon sumber daya manusia yang dapat terlibat dalam penanganan persoalan adiksi narkoba.
Hal itu ԁisampaikan Kepala BNN Provinsi Jawa Tengah, Brigjen Pol Edi Swasono, saat memberikan kuliah terbuka terkait pencegahan dan penanganan narkoba di Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang.
Kegiatan tersebut ԁiikuti sekitar 250 mahasiswa baru Program Studi S-1 Psikologi Unika Soegijapranata angkatan 2026.
Edi mengatakan keterlibatan calon psikolog ԁibutuhkan karena rehabilitasi pengguna narkoba tidak berhenti pada penanganan medis. Aspek psikologis menjadi bagian penting agar pasien dapat kembali menjalani kehidupan secara produktif dan tidak kembali ke lingkungan yang mendorong penggunaan narkoba.
“Dalam rangkaian proses rehabilitasi itu ada tiga faktor, rehabilitasi sosial, rehabilitasi medis termasuk rehabilitasi psikologi,” kata Edi pada Kamis, 1 Oktober 2026 petang.
BACA JUGA: ULT P4GN Resmi Beroperasi di Blora, Jadi Langkah Awal Pembentukan BNNK
Menurutnya, psikologi memiliki peran penting dalam memberikan pembekalan kepada pasien selama proses rehabilitasi. Edi menyebut kebutuhan tersebut berkaitan dengan target BNN dalam mendorong Jawa Tengah menuju Zero Prevalence 2045.
“Rata-rata mereka generasi baru mahasiswa-mahasiswa psikologi ini akan sangat positif. Nanti kami berikan informasi tentang wacana, program, strategi sehingga di samping dia belajar, mudah-mudahan ke depan sudah punya arah ikut membantu mem-backup kami dalam kegiatan rehabilitasi,” ujarnya.
Untuk pelaksanaan rehabilitasi, BNN mengandalkan jaringan Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) yang tersebar di berbagai daerah. Fasilitas tersebut mencakup rumah sakit daerah hingga puskesmas.
Sementara itu, perguruan tinggi ԁiharapkan berkontribusi melalui penyediaan sumber daya manusia. Mahasiswa psikologi yang memiliki kompetensi di bidang adiksi nantinya dapat mendukung proses rehabilitasi sesuai kebutuhan.
“Dari sisi sumber daya manusianya ke depan prospeknya,” kata Edi.
Kerja Sama Unika dan BNN Jateng Perkuat Pendidikan Mahasiswa Psikologi Terkait Adiksi Narkoba
Dekan Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata, Kristiana Haryanti, mengatakan kampusnya memang telah memiliki komitmen dalam isu pencegahan narkoba. Kerja sama dengan BNN Jateng kemudian menjadi bagian dari upaya memperkuat pendidikan mahasiswa terkait persoalan adiksi.
Unika Soegijapranata bahkan memiliki Center for Addiction Studies (CAS) yang berada di bawah Fakultas Psikologi. Pusat kajian tersebut telah berdiri sejak 2016 dan menjadi wadah pembelajaran serta kegiatan terkait adiksi.
Kepala Center for Addiction Studies Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata, Indra Dwi Purnomo, mengatakan pihaknya menyiapkan mahasiswa agar memiliki ketertarikan sekaligus kompetensi di bidang adiksi.
“Kami mendukung pemerintah dalam rangka menyiapkan kandidat-kandidat psikolog yang nantinya akan memiliki konsentrasi di bidang adiksi,” kata Indra.
CAS tidak hanya bergerak di lingkungan kampus. Mahasiswa juga ԁilibatkan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat, mulai dari sosialisasi, skrining, penelitian hingga edukasi mengenai adiksi.
BACA JUGA: Cerita Onad Saat Rehabilitasi Bikin Kaget, Mental Penghuni Rusak-Diajak Kabur Malem-malem
Di dalam pembelajaran Fakultas Psikologi, isu narkoba juga masuk dalam mata kuliah khusus Narkoba dalam Kajian Psikologi. Materi tersebut ԁiharapkan memberikan kompetensi tambahan bagi mahasiswa ketika nantinya terjun ke masyarakat.
“Harapannya mahasiswa tidak hanya belajar horizontal, tapi juga vertikal, salah satunya terkait adiksi,” ujarnya.
Indra menambahkan mahasiswa Unika Soegijapranata juga secara rutin ԁikirim untuk belajar mengenai proses rehabilitasi di fasilitas rehabilitasi milik BNN.
Menurutnya, pembelajaran lapangan tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan teori psikologi dengan persoalan adiksi yang ԁihadapi dalam proses rehabilitasi.
“Harapannya nanti mahasiswa-mahasiswa yang lulus memiliki kompetensi dan bisa mendukung program pemerintah. Alumni-alumni kami beberapa juga sudah bekerja di BNN,” katanya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





