Jateng

Kekerasan Anak di Semarang Tembus 102 Kasus, Wali Kota Agustina Ajak Perangi Bullying

×

Kekerasan Anak di Semarang Tembus 102 Kasus, Wali Kota Agustina Ajak Perangi Bullying

Sebarkan artikel ini
Kekerasan Anak di Semarang Tembus 102 Kasus, Wali Kota Agustina Ajak Perangi Bullying
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng bersama merayakan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di Balai Kota Semarang. (Ellya/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Kasus kekerasan terhadap anak di Kota Semarang masih menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Semarang.

Hingga Juli 2026, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang mencatat 102 kasus kekerasan terhadap anak. Mulai dari perundungan (bullying), kekerasan seksual, kekerasan psikis, hingga kekerasan fisik.

Tingginya angka tersebut menjadi alarm bagi seluruh pihak untuk memperkuat perlindungan anak. Sebagai perbandingan, sepanjang 2025 tercatat 163 kasus kekerasan terhadap anak di Kota Semarang.

Kepala DP3A Kota Semarang, Pranyoto, mengatakan ratusan kasus yang terjadi sepanjang Januari hingga Juli menunjukkan bahwa upaya pencegahan harus terus diperkuat, terutama di lingkungan sekolah dan keluarga.

“Hingga periode Januari sampai Juli tahun ini sudah tercatat 102 kasus kekerasan terhadap anak. Tahun lalu jumlahnya mencapai 163 kasus,” ujar Pranyoto usai peringatan Hari Anak Nasional (HAN) Kota Semarang di Balai Kota Semarang, Selasa malam, 28 Juli 2026.

Menurutnya, DP3A terus menggencarkan langkah preventif melalui sosialisasi di sekolah dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk Dinas Pendidikan dan aparat yang menangani kejahatan siber. Langkah itu untuk mengantisipasi meningkatnya kekerasan, termasuk yang lantaran dari media sosial.

“Kami terus melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah. Kami juga melibatkan berbagai unsur, termasuk cyber crime, untuk mencegah kekerasan yang berawal dari media sosial,” katanya.

Peringatan Hari Anak Nasional di Kota Semarang tahun ini dikemas melalui pertunjukan drama musikal yang diperankan ratusan anak. Pementasan tersebut mengangkat tema perundungan di lingkungan sekolah sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti mengapresiasi semangat anak-anak yang terlibat dalam pertunjukan tersebut. Menurutnya, kreativitas dan keberanian mereka menjadi pesan kuat untuk membangun lingkungan yang lebih ramah anak.

“Semangat anak-anak sangat luar biasa. Mereka sangat antusias tampil dan menjalani proses latihan yang panjang. Mudah-mudahan semangat ini bisa menular kepada anak-anak lainnya,” kata Agustina.

BACA JUGA: Konsumsi Ikan Semarang Capai 44 Ton, Produksi Lokal Baru 7,2 Ton, Sunfish Jadi Solusi 

Agustina menilai persoalan bullying masih menjadi tantangan besar di Kota Semarang. Dia menegaskan, penanganan kasus perundungan tidak cukup hanya mengandalkan korban, tetapi juga membutuhkan kepedulian orang dewasa di sekitarnya.

Menurutnya, banyak korban bullying masih takut untuk melapor. Di sisi lain, tidak sedikit laporan yang belum mendapatkan respons cepat dari lingkungan sekitar.

“Anak-anak harus berani bersuara ketika mengalami perundungan. Yang tidak kalah penting, orang dewasa harus peka dan memberikan respons cepat ketika ada laporan,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Agustina juga merespons aspirasi Forum Anak Kota Semarang yang menginginkan lebih banyak ruang ramah anak. Pemerintah Kota Semarang berkomitmen menyediakan ruang yang aman bagi anak untuk belajar, berkreasi, dan mengekspresikan diri.

Ia memastikan kampanye stop bullying dan stop kekerasan terhadap anak akan terus digelorakan hingga ke lingkungan masyarakat.

“Kami ingin menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan ramah anak. Tidak hanya di Balai Kota, tetapi juga di sekolah, keluarga, dan lingkungan tempat tinggal masing-masing,” pungkas Agustina. (*)

 

Editor: Elly Amaliyah

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp