UNGARAN, beritajateng.tv – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendorong pemerintah daerah untuk lebih proaktif dalam menata serta mengembangkan potensi pariwisata dan budaya unggulan di wilayahnya.
Langkah ini ternilai penting agar potensi tersebut dapat terkemas menjadi event berkualitas yang mampu menarik kunjungan wisatawan sekaligus menggerakkan perekonomian daerah.
Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kemenpar, Vinsensius Jemadu, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan program strategis bernama Kharisma Event Nusantara (KEN).
BACA JUGA: Sambut Kawasan Pariwisata Strategis BOKOR, Pemkot Salatiga Usung Konsep Giant Rest Area
Program ini terancang untuk mendukung serta mempromosikan berbagai event daerah agar dapat masuk dalam kalender event nasional.
“Melalui pemerintah provinsi sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat, event-event daerah yang memiliki nilai dan kualitas baik akan dihimpun untuk bisa masuk dalam KEN,” ujarnya saat Sosialisasi Strategi Promosi dan Pemasaran Event Daerah di The Wujil Resort & Conventions, Kabupaten Semarang, Jumat, 27 Maret 2026.
Kurasi Ketat dan Objektif
Vinsensius menjelaskan, setiap tahun KEN akan mengkurasi sekitar 110 event daerah dari berbagai kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Proses kurasi dilakukan secara ketat dengan melibatkan para ahli dari berbagai bidang.
“Yang mengkurasi bukan dari Kemenpar, melainkan para pakar seperti ahli keuangan, analisis dampak, visitor management, hingga kreativitas. Jadi benar-benar objektif,” tegasnya.
Para kurator tersebut berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari akademisi, ekonom, hingga profesional di bidangnya.
Dalam kesempatan yang sama, Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel JD Wattimena, menekankan pentingnya strategi pengembangan desa wisata yang lebih cerdas.
Menurutnya, desa wisata harus mengedepankan konsep work smart dibanding sekadar work hard, terutama karena sebagian besar desa wisata masih berada pada tahap rintisan.
Ia juga menyoroti pentingnya keunikan gaya hidup lokal sebagai daya tarik utama bagi wisatawan.
“Tidak cukup hanya mengandalkan kekayaan alam. Yang utama adalah gaya hidup unik yang tidak desa wisata lain miliki,” jelasnya.





