Dalam satu rumah yang kini ia tempati sementara, terdapat delapan orang dari keluarga besar. Mereka tinggal berhimpitan di tengah keterbatasan, sambil terus waspada terhadap kemungkinan tanah bergerak kembali.
Status lahan yang ditempati warga pun bukan milik pribadi, melainkan tanah milik TNI yang selama ini hanya ditempati dengan izin. Hal ini semakin mempersempit ruang gerak warga untuk mencari solusi mandiri.
Rafi mengaku hingga kini belum ada kepastian relokasi dari pemerintah, meski sempat ada wacana pemindahan warga ke lokasi yang lebih aman. “Katanya mau direlokasi, tapi sampai sekarang belum ada keputusan,” katanya.
BACA JUGA: Tanah Bergerak di Kampung Sekip Semarang, Rumah Warga Geser dan Roboh Usai Hujan Deras
Di tengah situasi tersebut, harapan Rafi sederhana: tempat tinggal yang aman dan layak untuk keluarganya, terutama bagi sang bayi yang baru lahir. “Enggak muluk-muluk, yang penting aman dan nyaman buat keluarga,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua RT 07 RW 01 Kampung Sekip, Joko Sukaryono, mengatakan hingga saat ini warga masih bertahan di tenda darurat tanpa kepastian langkah lanjutan dari pemerintah.
Data sementara, terdapat 17 rumah terdampak tanah bergerak di Kampung Sekip, dengan empat rumah di antaranya roboh. Sebanyak 23 kepala keluarga (KK) terdampak, di mana sebagian warga kini masih bertahan di tenda, sementara lainnya terpaksa mengontrak, ngekos, atau menumpang di rumah kerabat.
“Empat rumah roboh, sebagian sudah ngekos atau ngontrak secara mandiri tanpa subsidi. Yang lain masih di tenda dan cemas karena belum tahu akan ke mana setelah ini,” jelas Joko. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





