“Kondisi fisik pasien itu juga ada pengaruhnya. Waktu kami memeriksa pasien, pagi itu [dia] kondisi puasa. Setelah dua hari, pasien periksa lagi di [RSUP Dr.] Karyadi Semarang; itu [dia] puasa atau tidak kami kurang tahu. Menurut logika kami, perjalanan dari Blora ke Semarang terus periksa kalau puasa tidak mungkin, pasien pasti tidak kuat,” jelas Sri.
“Yang normal saja bisa berubah setiap saat, apalagi yang sakit. Jadi banyak faktor yang bisa memengaruhi hasil lab. Dan setiap alat itu pasti berbeda hasilnya; ada batas ambang sendiri. Kalau ada beda hasil sedikit itu wajar,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





