Komunikasi massa selama ini dipahami sebagai proses penyampaian pesan kepada khalayak luas melalui media seperti surat kabar, radio, dan televisi.
Media massa berperan sebagai penyaring informasi sekaligus penentu isu apa yang penting untuk diketahui publik. Namun, perkembangan media sosial telah membawa perubahan besar dalam cara komunikasi massa bekerja.
Disrupsi algoritma media sosial menjadi tantangan baru bagi komunikasi massa. Algoritma adalah sistem yang mengatur konten apa saja yang muncul di layar pengguna berdasarkan minat, kebiasaan, dan interaksi sebelumnya.
Akibatnya, informasi yang diterima masyarakat tidak lagi sama, meskipun berasal dari peristiwa yang sama. Setiap orang mendapatkan “versi” informasi yang berbeda.
Dalam konteks ini, peran media massa mengalami pergeseran. Jika sebelumnya media menentukan agenda publik, kini algoritma platform digital ikut mengambil alih peran tersebut.
Konten yang sering diklik, dibagikan, atau dikomentari cenderung lebih mudah tersebar, tanpa selalu mempertimbangkan kualitas atau akurasi informasi.
Hal ini membuat pesan yang sensasional sering kali lebih cepat viral dibandingkan informasi yang mendidik.
Disrupsi algoritma juga berdampak pada pola konsumsi informasi masyarakat. Publik menjadi lebih pasif karena hanya menerima konten yang disodorkan sistem.
Tanpa disadari, masyarakat dapat terjebak dalam ruang informasi yang sempit, di mana pandangan berbeda jarang muncul. Kondisi ini berpotensi melemahkan fungsi komunikasi massa sebagai sarana edukasi dan pemersatu publik.
Meski demikian, media massa tidak sepenuhnya kehilangan peran. Di tengah banjir informasi digital, media tetap dibutuhkan sebagai sumber informasi yang kredibel dan bertanggung jawab.
Tantangannya adalah bagaimana media mampu beradaptasi tanpa mengorbankan nilai jurnalisme, serta bagaimana masyarakat meningkatkan literasi komunikasi agar tidak mudah terpengaruh oleh arus informasi yang dikendalikan algoritma.
Pada akhirnya, komunikasi massa di era disrupsi algoritma menuntut keseimbangan antara teknologi, media, dan kesadaran publik.
Algoritma boleh mengatur arus informasi, tetapi kemampuan berpikir kritis masyarakat tetap menjadi kunci utama dalam memahami pesan komunikasi secara utuh.
Penulis: F. Tika Mantofany (Anggota DPRD Kota Semarang, mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang).
Editor: Elly Amaliyah





