Jateng

Konsumsi Ikan Semarang Capai 44 Ton, Produksi Lokal Baru 7,2 Ton, Sunfish Jadi Solusi

×

Konsumsi Ikan Semarang Capai 44 Ton, Produksi Lokal Baru 7,2 Ton, Sunfish Jadi Solusi

Sebarkan artikel ini
Konsumsi Ikan Semarang Capai 44 Ton, Produksi Lokal Baru 7,2 Ton, Sunfish Jadi Solusi
Launcing Semarang Urban Fishery Integrated Smart and Holistic (Sunfish) di Balai Kota Semarang. (Ellya/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Tingginya konsumsi ikan masyarakat Kota Semarang yang mencapai 44 ton belum mampu diimbangi hasil produksi lokal.

Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Perikanan mengembangkan program Semarang Urban Fishery Integrated Smart and Holistic (Sunfish) dengan memanfaatkan lahan sempit di kawasan perkotaan untuk budidaya ikan.

Program ini harapannya menjadi solusi atas keterbatasan lahan tambak sekaligus memperkuat ketahanan pangan di Kota Semarang.

Kepala Dinas Perikanan Kota Semarang, Soenarto, mengatakan produksi ikan budidaya pada 2025 hanya mencapai 7,2 ton.

Angka itu masih jauh dari kebutuhan konsumsi masyarakat yang mencapai sekitar 44 ton, sehingga pasokan ikan masih bergantung dari daerah lain.

“Produksi ikan di Kota Semarang tahun 2025 hanya sekitar 7,2 ton, sedangkan kebutuhan konsumsi masyarakat mencapai 44 ton. Artinya, masih ada kekurangan yang harus terpenuhi dari luar daerah,” ujar Soenarto.

Menurutnya, rendahnya produksi ikan tidak lepas dari berkurangnya kawasan tambak akibat penurunan muka tanah dan rob yang terus menggerus wilayah pesisir Semarang. Akibatnya, banyak lahan budidaya yang sudah tidak lagi produktif.

“Kendala terbesar kami adalah penurunan muka tanah yang menyebabkan banyak area pertambakan rusak dan tidak lagi bisa dimanfaatkan untuk budidaya,” jelasnya.

Menghadapi kondisi tersebut, Dinas Perikanan mengubah strategi dengan mengembangkan konsep budidaya perikanan di lingkungan perkotaan.

BACA JUGA: Air PDAM Semarang Mendadak Keruh, Ini Penyebab dan Langkah Cepat Tirta Moedal 

Program Sunfish berfokus pada pemanfaatan lahan terbatas di permukiman untuk membudidayakan ikan konsumsi, terutama lele dan nila.

“Walaupun lahannya terbatas, kami ingin masyarakat tetap bisa membudidayakan ikan. Karena itu kami memilih lele dan nila sebagai komoditas unggulan yang cocok pengembangannya di kawasan perkotaan,” katanya.

Sebagai bagian dari program tersebut, Dinas Perikanan membentuk Kampung Buleni atau Kampung Budidaya Lele dan Nila. Salah satu kawasan percontohan telah Dinas Perikanan bangun ada di Siroto, Kecamatan Gunungpati.

Kampung tersebut menjadi sentra budidaya ikan terpadu, mulai dari pembenihan, pembesaran, pengolahan hasil hingga pemasaran produk perikanan.

Selain itu, Balai Benih Ikan (BBI) juga akan berkembang menjadi pusat edukasi bagi masyarakat yang ingin mempelajari teknik budidaya ikan modern.

Tak hanya mengejar peningkatan produksi, program Sunfish juga di arahkan untuk menarik minat generasi muda agar terjun ke sektor perikanan.

Pasalnya, sebagian besar pembudi daya ikan di Kota Semarang saat ini berusia di atas 45 tahun sehingga regenerasi menjadi kebutuhan mendesak.

“Kami ingin anak-anak muda tertarik ke dunia perikanan. Selama ini sektor ini di anggap kotor dan sulit. Karena itu kami menghadirkan sentuhan teknologi seperti sistem pemberian pakan otomatis berbasis Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Agar budidaya ikan menjadi lebih modern dan menarik,” pungkas Soenarto.

Melalui program Sunfish, Pemerintah Kota Semarang berharap produksi ikan lokal terus meningkat. Sehingga ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dapat berkurang.

Di sisi lain, program ini juga harapannya mampu membuka peluang usaha baru. Dan memperkuat ketahanan pangan berbasis masyarakat di kawasan perkotaan. (*)

 

Editor: Elly Amaliyah

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp