SEMARANG, beritajateng.tv – Polemik yang muncul dari materi stand up comedy Pandji Pragiwaksono kembali memantik diskusi publik tentang batas humor dan politik. Dalam pertunjukan bertajuk Mens Rea di Jakarta, Pandji melontarkan kritik kepada sejumlah pihak, termasuk Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yang kemudian memicu perdebatan di ruang publik.
Menanggapi fenomena tersebut, peneliti bahasa Universitas Negeri Semarang (Unnes), Rahmat Petuguran, menegaskan bahwa humor pada dasarnya tidak pernah netral. Dalam kajian kebahasaan dan wacana, humor justru selalu berkelindan dengan relasi kuasa, ideologi, dan kondisi sosial-politik.
“Dari hasil penelitian saya, humor di berbagai budaya dan zaman selalu memiliki dimensi politis. Ia bisa dipakai penguasa untuk memperkuat hegemoni, tapi juga menjadi alat perlawanan kelompok yang terpinggirkan,” ujar Rahmat saat beritajateng.tv konfirmasi pada Rabu, 14 Januari 2026.
BACA JUGA: Dugaan Hina Wapres Gibran, Pandji Tak Bisa Kena Pidana
Rahmat menjelaskan, penggunaan humor sebagai medium kritik telah mengakar kuat dalam tradisi Indonesia. Mulai dari kesenian rakyat seperti ketoprak, lenong, dan ludruk, hingga bentuk modern seperti stand up comedy dan konten humor digital, semuanya memanfaatkan kelucuan sebagai sarana menyampaikan kritik sosial.
Menurutnya, humor lahir dari latar sosial-budaya yang sarat kepentingan. Sebagai produk bahasa, humor berangkat dari kegelisahan penciptanya, lalu dikemas dalam skrip yang memuat ambiguitas, kontradiksi, dan elemen kejutan agar pesan tersampaikan secara halus namun tajam.
“Humor hanya bekerja jika bertumpu pada asumsi bersama, pengetahuan umum, dan kegelisahan kolektif. Kalau tidak relevan dengan pengalaman audiens, humor akan kehilangan daya kritisnya,” jelasnya.
Stand Up Pandji Politis, Unsur Politis Humor Juga Muncul dalam Keseharian
Rahmat juga menekankan bahwa unsur politis humor tidak hanya muncul di panggung besar atau ranah publik. Dalam komunikasi sehari-hari, humor etnis, humor seksis, hingga lelucon politik tetap merefleksikan relasi kuasa dan bias sosial.





