“Ketika menyebut humor ‘sekadar bercanda’ atau ‘hanya guyon’, justru di situlah muatan politisnya semakin terlihat. Klaim itu sering dipakai untuk meredam kritik dan menghindari tanggung jawab,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyebut penguasa maupun pengkritik kekuasaan kerap menggunakan humor. Dalam riset pada 2024, Rahmat menemukan bahwa sejumlah presiden Indonesia, mulai dari Sukarno, Abdurrahman Wahid, Susilo Bambang Yudhoyono, hingga Joko Widodo, sama-sama memanfaatkan humor sebagai strategi komunikasi politik.
BACA JUGA: Muhammadiyah Bantah Laporkan Pandji soal Mens Rea, Tegaskan Tak Beri Mandat
“Dari penelitian tersebut, Jokowi tercatat sebagai presiden yang paling produktif menggunakan humor agresif dalam komunikasi publik,” ungkapnya.
Atas dasar itu, Rahmat menilai wajar jika Pandji menggunakan humor sebagai medium kritik sosial. Selain memiliki kekuatan emosional, humor juga dinilai sebagai bentuk kritik yang cerdas karena memadukan aspek estetik dan intelektual.
“Pilihan humor mencerminkan kecerdasan komika. Sementara itu, cara penguasa merespons humor akan menunjukkan tingkat kedewasaan dan kecerdasan politik mereka dalam menyikapi kritik,” pungkasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





