Korban mengatakan telepon genggam yang ia gunakan untuk berkomunikasi juga pelaku belikan setelah ia kehilangan penglihatannya.
Meski hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, korban akhirnya berhasil keluar dari tempat penyekapan setelah pemilik kos mengantarkannya ke rumah keluarganya.
Menurut pengakuannya, saat tiba di rumah, tubuhnya penuh dengan luka dan darah.
“Aku di antar ke sini sama yang punya kosan. Waktu sampai rumah, aku dalam keadaan penuh luka, keluar darah semua,” katanya.
Korban mengaku selama menjalani penyiksaan tersebut sempat kehilangan harapan untuk bisa pulang. Namun di tengah penderitaan yang ia alaminya, ia terus berdoa agar dapat kembali bertemu keluarganya.
“Awalnya enggak ada harapan. Tapi aku terus berdoa sama Allah. Ya Allah, bagaimanapun juga aku ingin pulang. Sekalipun nanti dalam keadaan apa pun, orang tua harus tahu keadaan aku,” tuturnya.
Ia juga menceritakan bahwa sebelum mengenal pelaku, ia masih bekerja dan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.
Namun perlahan pelaku mengambil alih kendali atas kehidupannya, termasuk menguasai barang-barang miliknya.
“Motor, handphone, iPhone, gaji juga sama dia. Katanya buat kebutuhan sehari-hari, ya aku ikut saja,” ujarnya.
BACA JUGA: Kasus Dugaan Penganiayaan Pengurus HIPMI Jateng Naik Penyidikan, Kuasa Hukum Terlapor Klaim Sudah Berdamai
Di akhir pesannya, korban berharap pelaku mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya melalui proses hukum. (*)





