Jateng

Krisis Air Terjang Rowosari Semarang, Ratusan Hektar Lahan Pertanian Tak Bisa Digarap

×

Krisis Air Terjang Rowosari Semarang, Ratusan Hektar Lahan Pertanian Tak Bisa Digarap

Sebarkan artikel ini
Krisis Air Terjang Rowosari Semarang, Ratusan Hektar Lahan Pertanian Tak Bisa Digarap
Pertanian krisis air dan kekeringan di Rowosari, Tembalang, Kota Semarang. (Ellya/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Musim kemarau yang berlangsung selama tiga bulan terakhir mulai memukul sektor pertanian di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang.

Ratusan hektar lahan sawah tadah hujan dan tegalan mengering sehingga tidak bisa lagi petani tanami.

Minimnya pasokan air membuat para petani terpaksa menghentikan aktivitas bercocok tanam. Tanaman jagung, padi, dan kacang hijau yang sebelumnya menjadi andalan warga mengalami gagal panen akibat kekurangan air.

Kondisi tersebut paling terasa pada warga RW 5 Rowosari yang mayoritas menggantungkan penghasilan dari sektor pertanian.

Kini hamparan lahan yang biasanya mereka tanami jagung dan palawija berubah menjadi tanah kering yang retak-retak.

Salah seorang petani Rowosari, Asiam, mengaku tidak lagi mampu menyelamatkan tanaman yang sudah telanjur mengering. Ia memilih membiarkan lahannya kosong sambil menunggu musim hujan datang.

“Sudah lama kekeringan. Tanaman jagung dan kacang hijau saya biarkan saja karena tidak ada air untuk menyiram. Kalau hujan baru bisa kami tanami lagi,” ujarnya.

Menurut Asiam, kondisi kekeringan di wilayah Rowosari sudah menjadi persoalan yang berulang setiap musim kemarau. Jagung yang tersisa pun hanya bermanfaat sebagai pakan ternak karena kualitasnya tidak lagi layak untuk konsumsi.

“Sudah tiga tahun saya bertani di sini. Saat kemarau tanah tidak bisa kita tanami. Jagung yang masih ada biasanya di beli untuk pakan ayam,” katanya.

Petani lainnya, Sukimah, juga mengaku mengalami kerugian akibat sawahnya tidak lagi mendapat pasokan air. Selama dua bulan terakhir lahannya tidak dapat ditanami sehingga gagal panen.

“Lahan sawah sudah kering sekitar dua bulan. Warga sekarang mengandalkan air dari sumur artesis. Jagung benar-benar gagal panen karena tidak ada air,” ungkapnya.

BACA JUGA: Tiga Kabupaten di Jateng Ini Dilanda Kekeringan, Ribuan Warga Kesulitan Air Bersih 

Tak hanya berdampak pada pertanian, krisis air bersih juga warga rasakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Masyarakat mengandalkan pasokan air artesis dari program Pamsimas yang alirannya kerap tidak stabil.

Menanggapi kondisi tersebut, Dinas Pertanian Kota Semarang mulai melakukan sejumlah langkah mitigasi untuk mengurangi dampak musim kemarau.

Salah satunya dengan memetakan wilayah yang paling rentan mengalami kekeringan.

Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, Shoti’ah, mengatakan pemetaan menjadi dasar pemerintah dalam menentukan langkah penanganan di lapangan.

“Kami sedang melakukan pemetaan wilayah-wilayah yang rawan kekeringan. Data ini menjadi dasar agar penanganan bisa berjalan secara tepat sesuai kebutuhan di masing-masing wilayah,” jelas Soti’ah.

Selain pemetaan, Dinas Pertanian juga melakukan evaluasi terhadap infrastruktur pendukung pertanian. Langkah tersebut meliputi perbaikan jaringan irigasi, optimalisasi embung, hingga pemanfaatan pompa air agar pasokan air tetap tersedia selama musim kemarau.

“Kami juga melakukan monitoring terhadap jaringan irigasi, embung, dan penggunaan pompa air supaya bisa dioptimalkan untuk membantu petani,” ujarnya.

Soti’ah menambahkan, pemerintah turut menyiagakan Brigade Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) untuk membantu petani mempercepat masa tanam sehingga risiko gagal panen akibat kekeringan dapat ditekan.

“Kami mengimbau petani melakukan percepatan tanam. Brigade alsintan juga kami siapkan untuk membantu petani agar dampak musim kemarau bisa diminimalkan,” katanya.

Ia menjelaskan, Kota Semarang memiliki sekitar 2.130 hektare lahan sawah yang menjadi bagian penting dalam mendukung program swasembada pangan nasional. Namun sebagian besar merupakan sawah tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan.

“Wilayah seperti Tembalang menjadi daerah yang paling rawan karena mayoritas sawahnya merupakan sawah tadah hujan. Saat kemarau panjang, hampir semua wilayah memiliki titik-titik yang mengalami kekeringan,” jelasnya. (*)

 

Editor: Elly Amaliyah

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp