SEMARANG, beritajateng.tv – Menjadi penari laki-laki di Indonesia memang masih menemui banyak tantangan. Salah satunya, stigma bahwa menari hanya milik perempuan yang menjadi penyempit laki-laki bebas dalam berkarya.
Stigma tersebut yang lantas berusaha Totok Pamungkas lawan hingga saat ini, yakni menjadi seorang pelatih tari. Sebagai pelatih tari di Sanggar Seni Sobokartti, Totok sejatinya telah lebih dari sepanjang hidupnya dekat dengan menari.
Baginya, menari adalah nadi kehidupan yang jika tidak bisa menari lagi, maka ia seperti mati.
Namun, seiring perkembangan zaman, Totok mengakui dirinya semakin susah menemukan bibit penari muda laki-laki. Hal tersebut yang juga memperkecil presentasi penari laki-laki usia dewasa nantinya.
BACA JUGA: Menengok Latihan Menari di Sanggar Seni Sobokartti, Hanya Ajarkan Tari Klasik Gaya Surakarta
“Sekarang ini memang sulit untuk mendapatkan calon penari laki-laki. Di sini (Sobokartti) saja sangat terbatas, cuma ada beberapa. Presentasi laki-laki jauh lebih kecil,” katanya saat beritajateng.tv temui.
Sedikit mengingat masa lalu, jumlah penari lelaki saat masa muda Totok lebih baik. Dulunya, ia belajar bersama banyak teman sesama laki-laki. Namun, seiring berjalannya waktu, tak banyak penari laki-laki yang melanjutkan karir di dunia seni tari.
Padahal, menurut Totok, penari laki-laki lebih banyak dibutuhkan pada wayang orang.
“Mungkin takut dibilang ngondek,” imbuhnya.
BACA JUGA: Maksimalkan Peran Perempuan, Begini Upaya Sanggar Seni Mardayu Lestarikan Kesenian Tradisional Jawa
Perkembangan penari laki-laki tak seperti di Surakarta dan Yogyakarta
Ia lantas membandingkan antara Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta. Dua kota terakhir, kata Totok, memiliki perkembangan penari laki-laki jauh lebih baik.
Di Surakarta misalnya, tari merupakan aktivitas sehari-hari, sehingga anak laki-laki berlatih menari adalah hal yang biasa.
“Aku iri dengan Kota Solo yang luar biasa karena regenerasinya berjalan dengan baik. Di Jogja juga begitu, makanya mereka disebut kota budaya,” ungkap Totok.
Sementara itu, salah satu penari laki-laki di Sobokartti adalah Rafael Pramudya. Siswa SMKN 1 Semarang tersebut telah menekuni seni tari selama tiga tahun terakhir.
BACA JUGA: Bukan Lagi Sesuatu yang Jadul, Rosmala Sari Dewi Ajak Anak Muda Lestarikan Tari Tradisional
Meski begitu, ia mengaku masih sering merasa malu apabila tampil di depan teman-teman sekolahnya.
“Kalau di sini nggak malu, kalau di sekolah malu. Mereka taunya nari untuk cewek tok (saja), belum tahu kalau di luar penari cowok itu banyak. Tapi aku berusaha pecaya diri soalnya guru nari juga biasa aja,” katanya.
Untungnya, Rafael mendapat dukungan penuh dari keluarga. Sang ibunda dan juga pamannya bahkan memiliki kiprah panjang di dunia seni tari.
Saat ini, ia telah mengisi beberapa agenda pemerintah seperti Dugderan dan Rakernas beberapa waktu yang lalu. Sementara tiga tari kesukaannya adalah Tari Warak Dugde, Tari Gado-Gado Semarang, dan Tari Beksan Endah.
“Senengnya kalau dapet job, dapat uang kan, bisa cari uang sendiri. Karena masih junior sekali tampil sekarang Rp400 ribu,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar Rahma Qadafi





