LPS Optimis Fundamental Ekonomi Nasional Kuat Didukung Konsumsi Domestik Tinggi

Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Didik Madiyono. (Lembaga Penjamin Simpanan)

JAKARTA, 16/11 (beritajateng.tv) – Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Didik Madiyono mengungkapkan, memasuki akhir tahun 2022 pemulihan domestik terus berlanjut di tengah tingginya faktor ketidakpastian eksternal.

Menurutnya, resiliensi ekonomi Indonesia tersebut ditopang oleh konsumsi domestik dan investasi yang tumbuh dengan baik. Terlebih konsumsi domestik yang besar menyebabkan guncangan yang terjadi di tingkat global dapat diredam oleh solidnya ekonomi domestik.

“Ekonomi nasional memiliki fundamental yang kuat karena didominasi oleh dorongan konsumsi domestik. Selain itu, industri perbankan juga berada dalam kondisi yang stabil dengan tingkat permodalan yang kuat, tingkat likuiditas yang ample, dan pertumbuhan profitabilitas yang memadai,” ujarnya di Seminar The 6th Indonesia Risk Management Outlook 2023, dihelat di Jakarta, Rabu (16/11/2022).

Berdasarkan data terkini, meskipun ada ketidakpastian global namun ekonomi Indonesia mampu tumbuh. Utamanya diantara negara-negara anggota G20 lainnya, yaitu sebesar 5,72 persen pada kuartal III yang lalu, setelah sebelumnya tumbuh 5,45 persen pada kuartal II.

Kemudian, Didik menjelaskan, ketahanan industri perbankan pun tetap terjaga dengan baik. Tingkat permodalan perbankan sangat tebal pada level 25,12 persen pada September 2022. Sementara, penyaluran kredit tumbuh sebesar 11,00 persen YoY dengan dana pihak ketiga mulai ternormalisasi dengan tumbuh 6,77 persen YoY pada bulan September 2022.

“Hal ini mengindikasikan bahwa intermediasi perbankan terus mengalami peningkatan dengan risiko kredit yang terkendali. Likuiditas perbankan masih sangat memadai untuk mendorong pertumbuhan kredit ke depan dengan indikasi Alat Likuid/Non-Core Deposit /AL/NCD yang sebesar 121,61 persen atau dua kali lebih tinggi dari threshold yang sebesar 50 persen,” jelasnya.

Lebih jauh, Didik menegaskan, lembaga-lembaga anggota KSSK yaitu, BI, OJK, LPS dan Kemenkeu akan terus melakukan sinergi dan koordinasi secara intens dalam rangka menjaga Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) untuk menghadapi potensi risiko global yang semakin meningkat.

“LPS bersama anggota KSSK lain bersinergi untuk mengatasi dampak syok terhadap perekonomian. Saat terjadi gangguan atau syok pada sistem perekonomian, mekanisme syok absorber pada umumnya dilakukan oleh pemerintah melalui kebijakan fiskal dan oleh bank sentral dengan kebijakan moneter. Ini ditunjukkan untuk memperkuat fundamental makro ekonomi nasional untuk bertahan dari guncangan dan shock pada sistem perekonomian,” pungkasnya. (*)

editor: ricky fitriyanto

Leave a Reply