SEMARANG, beritajateng,tv – Berkaca dari kasus mahasiswi Undip yang meninggal dunia beberapa hari lalu di Gunung Lawu, ada tips mendaki gunung yang perlu menjadi perhatian. Khususnya bagi pendaki pemula.
Tips mendaki gunung tersebut yaitu pendaki pemula diimbau untuk tidak mendaki gunung dengan ketinggian 3.000 mdpl terlebih dahulu. Hal ini disampaikan langsung Ketua DP Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) Jateng, Dasirun kepada beritajateng.tv melalui sambungan telepon, Sabtu 1 Juli 2023.
BACA JUGA: Mahasiswi Undip Meninggal saat Daki Gunung Lawu, SAR Imbau Pendaki Pemula Pahami Medan
“Pertama kalau bisa jangan naik ke 3000 mdpl dulu. Naik yang ke pendek-pendek dulu untuk latihan. Bisa ke Gunung Prau, itu kan memang nggak tinggi ya sekitar 2500 mdpl,” ujar Dasirun terkait tips mendaki gunung.
Selain Gunung Prau, ia merekomendasikan Gunung lain seperti Gunung Pakuwaja dan Gunung Kembang di Kabupaten Wonosobo. Kedua gunung tersebut ketinggiannya tak sampai 3000 mdpl. Tips mendaki gunung lainnya, persiapan yang bagus dan memadai menjadi sangat penting bagi setiap pendaki. Tak terkecuali pendaki pemula.
Dasirun menyebut, persiapan fisik mesti dilakukan jauh-jauh hari sebelum pendakian berlangsung.
BACA JUGA: Ingin Gelar Ritual di Gunung Lawu, Seorang Pendaki Justru Tewas Hipotermia
“Pendakian gunung ini kan wisata minat khusus atau olahraga minat khusus. Persiapannya harus bagus, kalau nggak ada persiapan ya jangan. Ada persiapan fisik, sebulan sampai dua bulan sebelumnya, kaya lari, jogging, berenang bersepeda, biar kondisinya bugar,” tandasnya.
Baginya, peralatan yang pendaki bawa juga merupakan faktor penting. Adapun peralatan seperti jas hujan, sleeping bag, dan berbagai peralatan pendukung lainnya tak boleh terlewatkan.
Tips mendaki gunung, jangan bawa logistik dalam jumlah pas
Pasalnya, pendaki akan menemui cuaca ekstrim yang kerap terjadi. Maka dari itu, menjaga badan tetap hangat dan barang bawaan tetap kering tentu sangat penting.
Membawa logistik, terutama makanan dan minuman, dalam jumlah pas tidak Dasirun sarankan.
“Perbekalannya jangan pas. Air minum minimal 2 liter per hari. Makanan dan sebagainya, logistik itu harus yang lengkap. Kalau misal pendakian 1 hari, jatahnya harus lebih ibarat mendaki 1,5 hari, jangan pas,” tegasnya.
Lebih lanjut, penting bagi rombongan pendaki pemula untuk menggunakan pemandu atau orang lokal. Jangan sampai seluruh anggota rombongan masih pemula atau belum ada sama sekali yang berpengalaman dalam mendaki gunung. Terkait hal tersebut, Dasirun menyampaikan alasannya.
“Kalau memang pemula, jangan sebaiknya lima orang, empat orang atau semuanya itu pemula. Pas kondisi darurat kalau keempat-empatnya tidak ada pengalaman, nanti malah keputusan yang mereka ambil pasti keliru. Artinya dalam satu grup harus sudah ada yang berpengalaman,” terang Dasirun.
Khusus bagi pendaki yang memiliki riwayat penyakit, perlu ada pemeriksaan kesehatan dari instansi yang berwenang. Terpenting, metode peer to peer atau memberi tahu teman lain saat mendaki terkait penyakit dan obat-obatan apa yang harus pendaki konsumi juga penting.
“Saran saya sebelum berangkat ada pemeriksaan kesehatan, baik ke puskemas, dokter atau lainnya. Biasanya kalau di Taman Nasional Semeru itu wajib bawa surat kesehatan, cek tensinya, dan sebagainya. Sehingga dalam kondisi sehat,” papar Dasirun. (*)
Editor: Ricky Fitriyanto





