Jateng

Manipulasi Halus Berujung Eksploitasi, Bahaya Child Grooming Mengintai Anak di Era Digital

×

Manipulasi Halus Berujung Eksploitasi, Bahaya Child Grooming Mengintai Anak di Era Digital

Sebarkan artikel ini
Bunuh Diri Anak | ilustrasi wanita depresi
Ilustrasi orang depresi. (Foto: Pexels/Pixabay)

SEMARANG, beritajateng.tv – Kasus child grooming menjadi ancaman serius bagi anak di era digital. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa praktik ini sering tidak tersadari karena berlangsung halus, bertahap, dan manipulatif.

Ketua PP IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, menjelaskan bahwa child grooming merupakan upaya pelaku membangun kedekatan emosional dengan anak sebelum melakukan eksploitasi.

“Ini manipulasi psikologis yang terencana, membangun kepercayaan dan rasa aman palsu, tetapi tujuannya eksploitasi seksual,” ujarnya pada Sabtu, 4 April 2026.

Menurutnya, anak menjadi rentan ketika tidak mendapatkan perhatian cukup dari keluarga. Kondisi tersebut membuat anak mudah percaya pada orang asing yang memberi perhatian.

“Jangan sampai anak-anak haus akan kasih sayang sehingga mudah orang yang pura-pura perhatian manipulasi,” tegasnya.

BACA JUGA: Psikolog Undip Ungkap Celah Child Grooming pada Anak, Dari Perbedaan Usia hingga Figur Manipulatif

IDAI menekankan pentingnya komunikasi antara orang tua dan anak untuk mencegah kasus ini.

“Jadikan anak sebagai sahabat, pendengar yang baik, agar anak tidak lari ke dunia maya mencari perhatian,” kata dr. Piprim.

Ia juga mengingatkan agar anak mendapatkan ruang aman, baik di dunia nyata maupun digital.
Data menunjukkan anak masih menjadi kelompok paling rentan dalam kekerasan seksual. Karena itu, peran keluarga dinilai sangat penting dalam pencegahan.

Proses Grooming Sering Tak Disadari

Sementara itu dokter spesialis anak, dr. Ariani menyebut child grooming sebagai ancaman “silent” yang sering luput dari perhatian.

“Ini bertahap, tidak langsung, dan sering teranggap normal oleh anak karena ada manipulasi emosional,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa pelaku biasanya memanfaatkan teknologi digital, seperti media sosial dan game online, untuk mendekati korban.

“Tujuan akhirnya pasti eksploitasi, terutama eksploitasi seksual,” katanya.

BACA JUGA: Aurelie Moeremans: Fakta Grooming, Karier, dan Perjalanan Hidup Bersama Mantan

Menurut dr. Ariani, dampak child grooming tidak hanya jangka pendek, tetapi juga jangka panjang.

“Dampaknya bisa ke mental, psikososial, bahkan sampai perilaku berisiko,” tegasnya.

Ia menyebut korban berpotensi mengalami depresi, kecemasan, hingga kecenderungan menyakiti diri sendiri.

Karena itu, orang tua diminta tidak mengabaikan perubahan kecil pada anak dan segera mencari bantuan profesional jika diperlukan. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp