Jateng

Psikolog Undip Ungkap Celah Child Grooming pada Anak, Dari Perbedaan Usia hingga Figur Manipulatif

×

Psikolog Undip Ungkap Celah Child Grooming pada Anak, Dari Perbedaan Usia hingga Figur Manipulatif

Sebarkan artikel ini
Child Grooming | Marriage is Scary
Psikolog Universitas Diponegoro, Amalia Rahmandani, saat beritajateng.tv jumpai langsung di Fakultas Psikologi Undip pada Selasa, 17 September 2024 sore. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Isu child grooming menjadi sorotan publik setelah viralnya memoar Broken Strings karya aktris dan penyanyi Aurélie Moeremans. Di Jawa Tengah, perbincangan soal child grooming kian menguat pascakasus seorang trainer gym asal Kabupaten Semarang yang mendekati dan melakukan pelecehan terhadap anak di bawah umur.

Maraknya perbincangan tersebut memantik perhatian kalangan akademisi. Psikolog Universitas Diponegoro (Undip), Amalia Rahmandani, menilai child grooming bukanlah peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan berkaitan erat dengan kerentanan psikologis anak dan ketimpangan relasi dengan orang dewasa.

Amalia menjelaskan, anak-anak dan remaja awal merupakan kelompok yang paling rentan menjadi korban grooming karena masih berada dalam tahap perkembangan identitas diri.

“Kalau kita bicara faktor risiko, pertama-tama ada pada periode kanak-kanak itu sendiri. Dari sisi usia dan tahap perkembangan, anak-anak hingga remaja ini belum memiliki identitas diri yang stabil,” ujar Amalia saat beritajateng.tv hubungi via WhatsApp, Minggu, 18 Januari 2025.

BACA JUGA: Apa itu Child Grooming? Viral Lewat Kisah Masa Lalu Aurelie Moeremans

Menurutnya, pada fase tersebut, kapasitas kognitif anak belum cukup matang untuk menilai risiko dalam relasi sosial yang dibangun.

“Secara kognitif, kemampuan untuk menilai bahwa ada kondisi berisiko dalam relasi itu belum matang. Kemampuan menilai risiko itu masih kurang,” katanya.

Selain itu, kata Amalia, kebutuhan emosional anak pada fase tersebut juga cenderung tinggi. “Kebutuhan afeksi, kebutuhan untuk diakui, itu tinggi. Sementara secara emosional, anak-anak ini juga belum stabil,” jelasnya.

Kondisi tersebut, lanjut Amalia, membuat anak lebih mudah terpengaruh oleh rayuan orang dewasa, terlebih jika relasi tersebut dibangun secara perlahan dan manipulatif.

Ketimpangan Relasi Usia dan Kuasa jadi Celah Grooming

Amalia menegaskan, dalam kasus child grooming, pelaku umumnya merupakan orang dewasa yang memiliki posisi dominan daripada anak.

“Relasi kuasa dan ketimpangan usia itu tidak terpungkiri. Pelaku adalah figur dewasa, lebih berpengalaman, lebih dominan,” ujarnya.