SEMARANG, beritajateng.tv – Maraknya kasus kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan pondok pesantren hingga kampus mendapat sorotan dari Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih.
Kasus terbaru terjadi di Pekalongan, pimpinan Pondok Pesantren Padang Ati ԁitetapkan sebagai tersangka kasus dugaan kekerasan seksual terhadap santriwatinya.
Fikri menilai munculnya berbagai kasus tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi persoalan yang sudah berlangsung lama dan luput dari pengawasan.
Menurut Fikri, kasus yang saat ini viral kemungkinan hanya sebagian kecil dari persoalan yang sebenarnya terjadi di berbagai lembaga pendidikan.
“Nah, tinggal mana yang sedang viral, mana yang tidak. Padahal berarti di bawah itu sudah lama begitu,” kata Fikri saat beritajateng.tv konfirmasi pada Kamis, 28 Mei 2026.
Kekerasan Seksual Terjadi Tidak Secara Tiba-tiba
Ia menegaskan kasus kekerasan seksual dengan jumlah korban besar tidak mungkin terjadi secara mendadak. Sebagai contoh, kasus dugaan kekerasan seksual yang terjadi di pondok pesantren Ndolo Kusumo, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati dengan korban yang ԁisebut mencapai 50 orang.
Menurutnya, kejadian tersebut ԁiduga sudah berlangsung dalam waktu lama sebelum akhirnya terungkap ke publik.
“Bukan tiba-tiba sekarang masa ujug-ujug ada korban 50 orang. Berarti itu kan sudah terjadi dari tahun-tahun sebelumnya,” ucapnya.
Fikri juga menyoroti adanya dugaan kasus serupa yang terjadi di berbagai institusi pendidikan, termasuk kampus berbasis keagamaan. Ia menyebut persoalan tersebut sering kali tertutup dan tidak terungkap. “Ini banyak, tapi ini kayak tertutup,” katanya.
BACA JUGA: Rentetan Kasus Kekerasan Seksual Libatkan Pendidik Agama, Gus Yasin Siapkan Pencegahan di Pesantren
Ia menilai lemahnya pendidikan karakter menjadi salah satu faktor yang memicu munculnya kasus-kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan. Kondisi tersebut, kata Fikri, semakin terasa setelah pandemi Covid-19.





