Ekbis

Membaca Perempuan ‘Pulang-pergi’ dalam Senyap Bus Listrik

×

Membaca Perempuan ‘Pulang-pergi’ dalam Senyap Bus Listrik

Sebarkan artikel ini
Bus listrik BRT Trans Semarang transit untuk naik turun penumpang di shelter Simpanglima, Kota Semarang, Rabu sore, 4 Novermber 2026. (Diaz A Abidin/beritajateng.tv)
Bus listrik BRT Trans Semarang transit untuk naik turun penumpang di shelter Simpanglima, Kota Semarang, Rabu sore, 4 Novermber 2026. (Diaz A Abidin/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Ira Ariani (47) sudah beranjak dari kos, di Kelurahan Brumbungan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Selasa pagi, 27 Oktober 2026. Sekira pukul 06.00 WIB, ojek daring mengantarnya menuju shelter Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang, di Kawasan Simpanglima.

Waktu yang dia perkirakan tak boleh meleset. Ibu dua anak ini harus sudah naik angkutan umum bus Trans Semarang rute Penggaron – Mangkang, sekira pukul 06.10 – 06.20 WIB. Dari pusat kota, butuh waktu perjalanan hingga 45 menit untuk sampai ke tempat kerjanya, di Kawasan Industri Wijayakusuma (KIW), Kecamatan Semarang Barat.

”Saya masuk pukul 07.00 WIB. Terus pulangnya, saya keluar kantor sekira sore pukul 16.00 WIB. Jadi mungkin dapat busnya sekitaran pukul 16.30, atau maksimal pukul 17.00 WIB,” kata Ira saat beritajateng.tv temui seusai pulang kerja di kompleks DP Mall. Jalan Pemuda, Kota Semarang, Selasa sore, 27 Oktober 2026.

Hari itu, dia mengenakan setelan kemeja hijau pupus. Ransel hitam di punggung, dengan sejumlah buku di dalamnya. Mode rambutnya pixie cut (cepak), tak lupa kacamata dia kenakan.

Penampilan ‘anti ribet’ yang serupa dengan angannya. Sebagai seorang perempuan dia ingin bisa mengakses transportasi publik yang aman, dan nyaman. Pun bagi perempuan, dan kaum rentan lainnya. Terkhusus untuk mobilitas utama di perkotaan.

“Transportasi umum harusnya itu mudah, murah, nyaman dan aman. Soalnya itu kan jadi alat utamanya (mobilitas) masyarakat. Terutama yang nggak punya kendaraan pribadi gitu kan,” bilang Ira.

Ya pagi di hari itu, menjadi pertama kalinya Ira menaiki bus listrik Trans Semarang. e. Padahal, sudah setahun terakhir perempuan pekerja swasta asal Jakarta ini bekerja di Kota Pelabuhan Semarang.

Seperti biasa, dia naik bersamaan dengan anak sekolah dan para pekerja di Kota Lumpia. Biasanya, dia kerap menaiki BRT Trans Semarang lama berwarna biru berbahan bakar minyak (BBM). Tentu dengan segala kekurangannya. Terutama kondisi fisik bus, hingga aroma menyengat asap knalpot yang juga tercium di kabin bus.

Ira juga baru tahu, kalau Kota Semarang baru saja memiliki bus listrik. Sudah sebulan terakhir, Pemerintah Kota Semarang mengoperasikan 27 bus listrik Trans Semarang sejak Rabu, 23 September 2026. Ini sebagai upaya elektrifikasi transportasi umum  yang lebih nyaman, dan rendah emisi untuk masyarakat nikmati.

Ira Ariani (47) saat beritajateng.tv temui seusai pulang kerja di kompleks DP Mall. Jalan Pemuda, Kota Semarang, Selasa sore, 27 Oktober 2026. (Diaz A Abidin/beritajateng.tv)
Ira Ariani (47) saat beritajateng.tv temui seusai pulang kerja di kompleks DP Mall. Jalan Pemuda, Kota Semarang, Selasa sore, 27 Oktober 2026. (Diaz A Abidin/beritajateng.tv)

Membaca Buku, Scrolling HP, Mengamati Kota

Ira mengaku merasa berbeda saat pertama kalinya menaiki bus listrik dengan warna khas putih pada bodi luar. Meskipun, dia masih kerap menumpang bus Trans Semarang lama berwarna biru dengan bahan bakar minyak (BBM).

Hal tersebut lantaran jumlah operasional bus listrik di Kota Semarang masih terbatas sebanyak 27 unit saja. Sementara total bus yang belum elektrifikasi mencapai 284 unit pada 2026.

“Rasanya kalau naik bus listriknya itu penumpangnya sudah terfilter. Karena hanya menerima pembayaran non tunai ya,” kata sosok yang menggemari membaca buku tersebut.

Sebagai pelanggan transportasi umum yang sudah lama sejak di Jakarta, Ira merasa memiliki ruang ketiga. Transportasi umum menjadi ruang dan waktu pribadi, di antara aktivitas pulang-pergi (PP) untuk bekerja, sebagai pekerja, juga seorang ibu.

Dari dalam kabin kendaraan transportasi umum itulah, dia bisa menyalurkan kegemaran lain untuk membaca buku. Bila situasinya tak bisa membaca buku, aktivitas lainnya yakni bermain gawai (scrolling), juga mengamati perkembangan kota di luar kaca.

“Baca buku sama scrolling HP (gawai) pasti. Tapi saya membaca cuma kalau dapat tempat duduk. Kalau berdiri scrolling doang bisanya. Praktis bisa tidur juga,” ucap ira yang belakangan sedang menghabiskan waktu membaca buku fiksi dari penulis asal Jepang tersebut.

”Yang bagus bukunya Seishi Yokomizo, (buku) kriminalnya wow. Sama Uketsu, bukunya tiga tapi yang ada terjemahannya baru dua. Judulnya Strange buildings,” katanya melanjutkan.

Transportasi umum sudah menjadi candu bagi Ira. Kehadiran angkutan umum bus listrik di Kota Semarang ini dia rasakan menambah kenyamanan.

”(Bus listriknya) sih oke. Terus cara supir nyetirnya juga lebih behave,” ucapnya.

Dia mengaku akan tetap menjadi pelanggan transportasi umum. Walaupun baginya lalu-lintas di Kota Semarang masih lebih lengang berbanding di Ibu Kota jakarta dengan hari-hari penuh drama kemacetan.

Penampakan Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang lama berbahan bakar minyak (BBM) saat melintas di Jalan Pandanaran, Kota Semarang, Rabu, 4 November 2026. Sebagian bus mengeluarkan asap pekat hitam, hingga mendapat julukan 'cumi-cumi darat'. (Diaz A Abidin/beritajateng.tv)
Penampakan Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang lama berbahan bakar minyak (BBM) saat melintas di Jalan Pandanaran, Kota Semarang, Rabu, 4 November 2026. Sebagian bus mengeluarkan asap pekat hitam, hingga mendapat julukan ‘cumi-cumi darat’. (Diaz A Abidin/beritajateng.tv)

Elektrifikasi Transportasi, Transformasi dari Si ’Cumi-cumi Darat’

Lebih lanjut, Ira membandingkan pengalaman pertama menaiki bus listrik tersebut berbanding armada yang sebelum-sebelumnya. Dia merasa adrenalinnya lebih kencang saat naik bus biru. Sebutan bus Trans Semarang berbahan bakar minyak rute utama  Penggaron – Mangkang (PP) yang membelah Kota Semarang.

“Kalau naik yang biru yang besar itu ya ampun. Bikin orang-orang jadi lebih religius. Kendalanya itu antara bisnya sudah jelek banget, terus AC-nya nggak berasa. Yang nyetir ngeremnya ugal-ugalan, terus masang lagunya kenceng banget kayak gitu,” katanya.

Ira berharap keberadaan bus listrik Trans Semarang yang baru tersebut bisa pemerintah pertahankan. Hal ini menyangkut keamanan, kebersihan, dan kenyamanannya. Syukur-syukur segera bertambah armada bus dengan panjang 12 meter, berkapasitas 60 orang tersebut.

Akan tetapi, Ira juga punya catatan untuk pemerintah. Pengelolaan transportasi publik haruslah mengutamakan keamanan, keselamatan, dan kenyamanan. Khususnya bagi kaum rentan, seperti perempuan, hingga lanjut usia.

Fasilitas pendukung seperti seperti yang ada di shelter, dan pekerja juga harus meningkat kapasitasnya. Transportasi umum sudah menjadi kebutuhan publik, bukanlah sekedar ada dan berjalan. Elektrifikasi transportasi harapannya menjadi pemantik untuk transformasi angkutan umum di masa depan.

Hal yang sama Ayu Rizki (34) rasakan. Dia merasakan ketidaknyamanan saat naik armada Trans Semarang berbahan bakar BBM yang lama. Apalagi bau asap knalpot tercium hingga ke dalam kabin bus.

Sudah lebih dari setahun dia memilih tak naik transportasi umum yang kerap masyarakat sebut sebagai ‘cumi-cumi darat’ itu. Oleh karena emisi asap hitam tebal yang mengepul keluar dari knalpot bus, dan sejumlah faktor lain.

“Kelebihannya memang harganya murah gitu, Rp4 ribu kan kalau bayar tunai. Kalau non tunai Rp3.500. Minusnya banyak sekali, pertama polusi. AC sering nggak kerasa, apalagi saking banyaknya penumpang. Terkadang dapat driver yang naiknya ugal ugalan,” kata pekerja swasta tersebut.

Ayu mengatakan, sudah mengetahui mulai beroperasinya bus listrik Trans Semarang untuk Koridor I Penggaron – mangkang tersebut. Akan tetapi dia memang sudah lama tidak menggunakan transportasi umum Trans Semarang karena banyak faktor.

“Kalau yang bus listrik aku belum pernah coba. Terakhir naik yang ‘cumi-cumi darat’ itu,” katanya mengenang sembari bercanda kecil.

Bus listrik Trans Semarang saat melintas di Jalan Pandanaran, Kota Semarang, Rabu, 4 November 2026. (Diaz A Abidin/beritajateng.tv)
Bus listrik Trans Semarang saat melintas di Jalan Pandanaran, Kota Semarang, Rabu, 4 November 2026. (Diaz A Abidin/beritajateng.tv)

Operasionalkan 27 Bus Listrik

Sebagai informasi sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang meluncurkan sebanyak 27 unit bus listrik BRT Trans Semarang. Secara seremonial, peluncuran bus listrik tersebut dalam rangkaian peringatan Hari Perhubungan Nasional 2026, di Balaikota Semarang, Rabu, 23 September 2026.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti, mengatakan, kehadiran elektrifikasi angkutan umum tersebut menjadi bagian dari target peremajaan 132 unit pada tahun ini.

Untuk saat ini Pemkot Semarang, mengelola armada BRT Trans Semarang dengan total 284 unit pada 2026.

”Tujuannya mewujudkan layanan transportasi publik yang modern, inklusif, dan ramah lingkungan,” kata dia.

Agustina mengatakan, bus listrik tersebut juga memiliki tingkat kebisingan operasional yang lebih rendah. Ini menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mengakses kendaraan listrik dalam layanan transportasi publik.

“Kami berharap transformasi ini memberikan pilihan mobilitas yang lebih baik bagi masyarakat. Sekaligus menjadi bagian dari upaya bersama menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih sehat dan berkelanjutan,” katanya.

Lebih lanjut, Agustina mengatakan, selain penambahan armada bus listrik tersebut, ada upaya peremajaan armada lain. Tujuannya mengurangi emisi dari asap knalpot yang keluar.

Selama ini dia akui, sebagian bus masih mengeluarkan asap hitam bak tinta cumi-cumi. Masyarakat menjuluki bus-bus tersebut dengan julukan ’cumi-cumi darat’.

Agustina juga mengimbau masyarakat untuk aktif melaporkan keberadaan BRT Trans Semarang yang masih mengeluarkan asap hitam tebal. Langkah itu, agar ada tindak lanjut dalam proses penggantian armada.

“Kalau menghilangkan (armada) sekaligus mungkin terlalu ekstrim. Tapi kami kurangi secara bertahap, satu per satu bus beremisi diganti baru, sampai nantinya seluruh armada bersih total,” katanya.

Bus listrik Trans Semarang melayani penumpang di shelter Kawasan Simpanglima, Kota Semarang, Rabu, 4 November 2026. (Diaz A Abidin/beritajateng.tv)
Bus listrik Trans Semarang melayani penumpang di shelter Kawasan Simpanglima, Kota Semarang, Rabu, 4 November 2026. (Diaz A Abidin/beritajateng.tv)

Kemenhub Target Elektrivikasi Bus Listrik 80 Persen

Melansir laman Kantor Berita Antara, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tmengkaji peta jalan (roadmap) elektrifikasi angkutan umum perkotaan. Targetnya adopsi bus listrik sebesar 80 persen pada 2030.

Keinginan tersebut, mempertimbangkan situasi terkini serta kemampuan fiskal pemerintah daerah dalam mendukung transisi energi di sektor transportasi.

Direktur Angkutan Jalan Kemenhub, Muiz Thohir, mengatakan, usulan tersebut sebagau revisi penyesuaian dari target sebelumnya sebesar 90 persen pada 2030. Kemudian akan meningkat kembali pada 2045.

“Kami usulkan revisi, kalau dulu di tahun 2030 itu 90 persen, sekarang mungkin sekitar 80 persen di 2030, kemudian 90 persen di 2040 dan 100 persen di 2045,” kata Muiz,  Rabu, 4 November 2026.

Adapun, penyesuaian target yang Kemenhub bahas itu bersama institut Kebijakan Transportasi dan Pembangunan (ITDP) Indonesia. Tentunya membaca dan memetakan tantangan implementasi di berbagai daerah.

Suasana di SPKLU PLN UP3 Semarang, Jalan Pemuda, Kota Semarang, Selasa malam, 27 Oktober 2026. (Diaz A Abidin/beritajateng.tv)
Suasana di SPKLU PLN UP3 Semarang, Jalan Pemuda, Kota Semarang, Selasa malam, 27 Oktober 2026. (Diaz A Abidin/beritajateng.tv)

Dukungan SPKLU PLN di Kota Semarang

Bersamaan dengan kehadiran angkutan umum bus listrik, PT PLN telah mendukung dengan membuat sejumlah stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di Kota Semarang.

Tak hanya bus listrik, sejumlah SPKLU di Kota Semarang telah masyarakat gunakan sejak beberapa tahun lalu. Baik untuk kendaraan pribadi, angkutan umum taksi, hingga travel.

Salah satunya SPKLU PLN UP3 Semarang, di Jalan Pemuda, Kota Semarang. Dari lima alat yang tersedia, kini keberadaan pengisian listrik terus bertambah.

Di luar itu, SPKLU PLN tersebar di sejumlah kantor-kantor pemerintahan, dan diler otomotif. Selain itu pusat-pusat bisnis yang sudah bekerjasama dengan PT PLN. Masyarakat juga bisa memantau langsung keberadaan SPKLU PLN melalui aplikai PLN Mobile. (*)

 

 

 

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp