“Sulit membayangkan bahwa kurang lebih 81 tahun yang lalu itu menjadi penjara dan di sana ditempatkan 1.400 orang,” katanya.
Pesan Perdamaian dari Perwakilan Belanda
Pesan perdamaian kemudian Commander Patrick Stähli sampaikan. Menurut Stähli, kisah korban perang menunjukkan besarnya penderitaan manusia di balik catatan sejarah.
“Perdamaian tidak bisa teranggap remeh. Perdamaian tidak datang dengan sendirinya. Kita harus berjuang demi perdamaian setiap hari,” ujarnya.
Ia mengajak masyarakat untuk menjaga perdamaian melalui pendidikan, komunikasi dan diplomasi, sekaligus belajar menerima perbedaan.
“Mari kita terima perbedaan. Kita sepakat untuk tidak sependapat. Mari kita cari nilai-nilai yang mempersatukan. Mari kita berjuang demi perdamaian,” katanya.
Selain sambutan dan kesaksian keluarga korban perang, peringatan juga terisi dengan sejumlah penampilan.
Nadin Himaya membacakan puisi dalam suasana hening di area makam. Setelah itu, Sanggar Monod Laras menghadirkan pertunjukan gamelan yang menambah suasana reflektif dalam kegiatan tersebut.
BACA JUGA: Dugaan Jual Beli Jabatan Perangkat Desa Sejak Rezim Sebelumnya, Sudewo: Pasrahkan Kepada Tuhan Yang Maha Kuasa
Salah satu bagian penting dalam acara adalah silent moment selama dua menit. Seluruh peserta berdiri dan mengheningkan cipta untuk memberikan penghormatan kepada para korban Perang Dunia II.
Dalam keheningan tersebut, para peserta diajak kembali mengingat jutaan manusia yang kehilangan nyawa, keluarga, rumah, serta masa depan akibat perang.
Peringatan kemudian berakhir dengan menaruh bunga di makam korban Perang Dunia II Asia. (*)
Editor: Farah Nazila





