Di rumah sakit, pasien datang dengan harapan sembuh secara fisik. Sementara di wisma lansia, fokus utama justru memastikan para penghuni dapat menikmati masa tua dengan nyaman, bahagia, dan bermartabat.
“Kalau di sini mungkin tidak sembuh secara fisik, tapi hatinya. Kita lebih ke menyejahterakan mereka,” ujarnya.
Ia menyebut wisma lansia sebagai tempat istirahat setelah seseorang melewati puluhan tahun perjalanan hidup yang penuh suka dan duka. Meski demikian, para penghuni tidak dibiarkan hanya berdiam diri.
“Kalau masih bisa aktivitas ya kita berdayakan. Tidak boleh dipaksa, tapi juga tidak boleh sama sekali tidak melakukan apa-apa karena bisa mempercepat penurunan fisik dan kognitif,” jelasnya.
Merawat 71 Karakter Berbeda
Tantangan terbesar Marlin bukan pada kondisi medis para penghuni, melainkan memahami puluhan karakter yang berbeda.
Saat ini terdapat sekitar 71 lansia yang tinggal di Wisma Lansia Harapan Asri, berasal dari berbagai latar belakang sosial, ekonomi, pendidikan, bahkan budaya.
Sebelum seseorang diterima menjadi penghuni, tim wisma melakukan asesmen menyeluruh mulai dari riwayat kesehatan, kondisi psikologis, hingga kebiasaan hidup sehari-hari. Langkah tersebut penting karena pendekatan kepada setiap lansia tidak bisa disamaratakan.
“Ada lansia dari kalangan tertentu yang tidak suka dipanggil oma atau opa. Ada yang suka mendapat kunjungan, ada yang tidak suka. Lansianya ada yang introvert, ada yang ekstrovert,” ungkapnya.
Menurutnya, memahami latar belakang penghuni menjadi kunci membangun hubungan emosional yang sehat.
“Bukan cuma bahasa. Kadang mereka membaca gerak tubuh kita. Pendengarannya mungkin menurun, jadi bahasa tubuh juga penting,” katanya.
Di tengah tantangan itu, Marlin mengaku menemukan kepuasan yang tidak mudah dijelaskan dengan kata-kata.
“Kita melihat mereka bersih, tertata, bahagia. Ada kepuasan tersendiri yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata,” ujar Marlin.
Wisma Lansia yang Lebih Mirip Kompleks Perumahan
Kepala Wisma Lansia Harapan Asri, Bruder Heri Suparno, menjelaskan bahwa tempat yang ia pimpin bukan sekadar panti jompo seperti yang selama ini masyarakat pahami.





