Berdiri sejak 5 Januari 2009, wisma yang kini menampung 71 penghuni itu terdesain menyerupai kompleks perumahan lansia.
“Di sini ada rumah-rumah. Ada yang tinggal berdua suami istri, ada yang tinggal sendiri. Bahkan ada yang masih membawa mobil sendiri dan ada yang membawa pendamping pribadi,” jelas Bruder Heri.
Para penghuni berasal dari berbagai daerah, termasuk Jakarta hingga warga Indonesia yang puluhan tahun menetap di Amerika Serikat maupun Eropa sebelum memutuskan kembali ke Tanah Air.
Untuk menjaga kualitas hidup penghuni, wisma menyediakan layanan perawat 24 jam, dokter, psikolog, psikiater, ahli gizi hingga fisioterapis.
Kegiatan harian juga terancang untuk menjaga kesehatan fisik dan sosial para lansia, mulai dari senam tiga kali seminggu, karaoke, permainan kelompok, hingga pembinaan rohani sesuai agama masing-masing.
Saat ada stigma yang menyebut bahwa lansia adalah beban keluarga, Bruder Heri memiliki pandangan yang berbeda. Baginya, masa tua adalah fase kehidupan yang justru layak di rayakan.
“Mereka sudah bekerja puluhan tahun untuk keluarga, anak-anak, dan dirinya sendiri. Sekarang waktunya menikmati hidup,” katanya.
BACA JUGA: Lokasi dan Syarat Pendaftaran Balik Rantau Gratis Pemprov Jateng 2026 Khusus Lansia
Ia menggambarkan para lansia sebagai “the beautiful sunset” atau matahari terbenam yang indah.
“Matahari memang terbenam, tetapi indah. Begitu juga lansia. Mereka tetap berharga, tetap menjadi tempat belajar bagi anak dan cucunya,” pungkasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





