Subroto juga menekankan pentingnya transparansi dan pengawasan agar program MBG tidak hanya menjadi formalitas.
“Jangan sampai ini hanya seremonial. Anak-anak kita butuh asupan gizi yang cukup, bukan sekadar nasi dan lauk seadanya. Kalau memang ada kekurangan, harus segera diperbaiki,” pungkasnya.
Sementara itu, anggota Koramil Todanan menyebut bahwa pihaknya sudah menegur kepala dapur yang bersangkutan untuk di evaluasi.
“Kemarin kepala dapur yang bersangkutan sudah kami beri teguran, tentunya ini akan menjadi bahan evaluasi agar kedepannya tidak terulang lagi dan menjadi lebih baik,” tutupnya.
Terpisah Kusyanto, mitra MBG di Tonanan mengakui bahwa menu yang sempat beredar luas di media sosial tersebut bukanlah representasi penuh dari menu harian MBG. Ia menambahkan bahwa pada hari tertentu memang ada keterbatasan bahan sehingga porsi terlihat minim.
“Memang benar ada dokumentasi yang menampilkan nasi, satu butir telur, sedikit tempe, dan pisang. Namun perlu kami luruskan, tidak setiap hari menunya seperti itu. Ada kalanya kami menyajikan lauk lain seperti ayam, ikan, maupun sayuran,” jelas Kusyanto.
BACA JUGA: Dua Pekan Program MBG Berjalan, Begini Kebiasaan Berbeda Sebagian Murid SDN Ungaran 02
Ia menambahkan, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kedungwungu tetap berupaya mengikuti pedoman gizi seimbang yang pemerintah daerah tetapkan. Namun, keterbatasan anggaran serta distribusi bahan makanan kerap menjadi kendala utama.
“Kami di lapangan berusaha maksimal dengan anggaran yang ada. Kalau ada menu yang terlihat kurang lengkap, itu bukan di sengaja. Kami sangat menerima kritik dari masyarakat untuk evaluasi ke depan,” imbuhnya.
Kusyanto juga menegaskan komitmennya untuk lebih transparan, agar kedepan SPPG miliknya menjadi lebih baik dalam melayani masyarakat khususnya bagi penerima manfaat.
“Kami siap terbuka, baik soal belanja bahan maupun menu yang di sajikan. Harapannya dengan adanya kritik ini, pemerintah daerah bisa ikut mengevaluasi dan memperbaiki sistem agar tujuan MBG benar-benar tercapai,” pungkasnya. (*)
Editor: Farah Nazila