Jateng

Miris!! Dari 79 Hidran di Kota Semarang, Hanya 10 yang Berfungsi

×

Miris!! Dari 79 Hidran di Kota Semarang, Hanya 10 yang Berfungsi

Sebarkan artikel ini
Miris!! Dari 79 Hidran di Kota Semarang, Hanya 10 yang Berfungsi
Ilustrasi hidran untuk bahan baku air saat terjadi kebakaran. (Foto: Freepik)

SEMARANG, beritajateng.tv – Ketersediaan hidran sebagai sumber air darurat saat kebakaran di Kota Semarang rupanya banyak yang tak berfungsi. Dari total 79 titik hidran yang tercatat tersebar di berbagai wilayah, hanya 10 hidran yang benar-benar berfungsi.

Kondisi ini membuat Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang harus bekerja ekstra setiap kali terjadi kebakaran.

Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang, Ade Bhakti Ariawan, mengaku prihatin dengan minimnya hidran aktif di kota yang memiliki luas wilayah mencapai 373,70 kilometer persegi tersebut.

“Dari 79 titik hidran yang tercatat, sekitar 61 masih terlihat fisiknya, tetapi yang benar-benar berfungsi hanya 10 titik. Sementara sisanya, ada yang rusak, tertutup, bahkan tidak terlihat lagi keberadaannya,” ujar Ade Bhakti, Minggu, 4 Januari 2026.

BACA JUGA: Sinergi Antar Daerah, DKI Jakarta Hibahkan Armada Damkar untuk Kota Semarang

Menurutnya, tim Damkar telah melakukan penelusuran di lapangan dengan radius pencarian hingga 20 meter dari titik koordinat hidran. Namun, sejumlah hidran tetap tidak ditemukan. Beberapa warga hanya melihat bagian atas hidran, sementara lainnya di duga sudah tertutup cor atau infrastruktur jalan.

“Kami menemukan laporan dari warga, ada hidran yang tinggal ujungnya saja, ada yang tutupnya hilang, bahkan ada yang sudah tertimbun sepenuhnya,” jelasnya.

Minimnya hidran aktif dinilai sangat berisiko, terutama saat terjadi kebakaran besar. Ade menyebut, dengan luas wilayah Kota Semarang, jumlah hidran yang ada saat ini sebenarnya sudah sangat kurang, apalagi dengan kondisi sebagian besar tidak berfungsi.

“Dengan wilayah seluas Semarang, 79 titik saja sebenarnya belum ideal, apalagi yang aktif hanya 10. Ini jelas menyulitkan kami di lapangan,” katanya.

Kondisi tersebut diperparah dengan masih adanya wilayah blank spot hidran, seperti di Kecamatan Gunungpati dan Mijen yang hingga kini belum memiliki satu pun titik hidran.

Akibatnya, Damkar harus mengandalkan suplai air dari truk tangki maupun sumber air alami seperti sungai.