SEMARANG, beritajateng.tv – Kata marhaban ya ramadhan ketika semakin dekat dengan bulan suci ramadan kini mulai ramai terdengar.
Namun ternyata, ada sejarah dan makna tersendiri loh yang tidak banyak umat muslim tahu.
Berikut akan beritajateng.tv bagikan informasi terkait sejarah dan makna seputar kata tersebut.
BACA JUGA: Tren Poster Ramadhan Gratis Terpopuler 2026: Link Download dan Cara Bikinnya
Sejarah Kata Marhaban Ya Ramadhan
Secara etimologis, kata marhaban berasal dari bahasa Arab yang bermakna “selamat datang”.
Dalam tradisi Islam di Nusantara, khususnya di tanah Sunda, istilah ini kemudian berkembang menjadi bagian dari budaya religius yang terkenal dengan sebutan marhaban.
Marhaban merupakan tradisi pembacaan kitab Al-Barzanji yang biasanya dilakukan dalam rangka peringatan Maulid Nabi, aqiqah, pernikahan, serta berbagai acara keagamaan lainnya.
Istilah ini muncul karena dalam rangkaian pembacaan shalawat terdapat bagian mahallul qiyam, yaitu momen ketika jamaah berdiri sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.
Seiring waktu, penggunaan kata marhaban tidak lagi terbatas pada tradisi Maulid Nabi, tetapi meluas menjadi ungkapan untuk menyambut berbagai momen sakral, termasuk datangnya bulan Ramadhan.
Perubahan ini menunjukkan bahwa bahasa religius bersifat dinamis dan terus berkembang mengikuti kebutuhan spiritual masyarakat.
Makna
Ucapan Marhaban ya Ramadhan menggambarkan kesiapan batin dalam menyambut bulan penuh ibadah.
Ungkapan ini menjadi tanda bahwa seorang Muslim membuka diri untuk menjalankan puasa, memperbanyak amal kebaikan, serta memperbaiki akhlak.
BACA JUGA: Imlek dan Ramadhan 2026 Berdekatan, Wali Kota Semarang Ajak Warga Perkuat Toleransi dan Harmoni
Berbagai kajian tentang Ramadhan di sejumlah negara juga menunjukkan bahwa bulan ini menjadi momen penting untuk memperkuat solidaritas dan identitas keagamaan.
Di tengah keragaman budaya, makna utama Ramadhan tetap sebagai momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus mempererat hubungan sosial.
Oleh karena itu, ungkapan tersebut bukan sekadar sapaan, melainkan bentuk komitmen spiritual yang terus hidup dalam tradisi dan kebudayaan. (*)





